Jumat, 04 Maret 2016

Whisper . . . where are you? |Chapter 2 : Kenyataan itu menyakitkan, ya?|



Swalaaaaauuuu semua!!! \(*0*)/
jumpa lagi dengan saya manusia setengah hantu yang gak ada manfaatnya!!! 3:v
kali ini saya mau kembali meng-up-date cerbung my love #plak
sorry buat yang udah nungguin lirisnya cerbung yang gak guna n gak manfaatnya. tapi.... dengan kalian membacanya mungkin akan jadi lebih bermanfaat (setidaknya gak percuma aku nulis nih cerita disini ) :v
jadi, selamat membaca cerbung kepret ini yah..... (-JL-)

_____________________________________

“yah bapak” kataku lesu

“cepat. Sekarang baca baik-baik. Dengerin suramu sendiri. Nanti bapak balik” dia mendinggalkanku sendiri

“iya pak” jawabku

“kan sudah kubilang. Pasti apes lagi pagi ini” bisik Arina

“udah sana. Pulang kamu. Gangguin aja” bentakku

“ngerinya. Lagian kan yang lain gak bisa ngeliat aku” pandangnya mohon

“justru karena itu. Cuma aku yang bisa ngeliat kamu dan cuma aku yang tau dimana kamu. Karena itu kalau kamu bikin macam-macam kan aku sendiri yang risih ngelatnya” kataku

“gak. Aku gak bikin macam-macam” katanya merayuku sambil berpose so’ cute

“udah sana. Pulang aja” bentakku lagi

“apa katamu, Za?” sahut pak Rohim

“eh. Enggak pak” jawabku tegang

“kamu sudah baca semua teksnya?”

“belum pak. Sebentar lagi”

“cepat bacanya”

“iya pak” sahutku

“tuh kan. Kena lagi aku. Udah sana” bisikku ke arina

“iya iya. Lebay banget sih”

“udah sana” kataku

“iya ah”

“Ehm!” batuk pak Rohim

“maaf pak”

“hahaha” dia hanya tertawa

Aku hanya memandang heran. Mengapa dia malah tertawa. Ada yang lucu? Saat Pak rohim keluar dari pintu aula, Arina pun pulang dengan wajah sedih. Terbesit dalam hatiku “sepertinya aku terlalu kasar” Apa itu? Paling nanti dirumah dia sudah ketawa-ketiwi lagi kaya biasa. Setelah bermenit-menit terlewati. Aku udah baca teks ini ribuan kali (lebay amat ya’). Pak Rohim pun datang . . .

“sudah bacanya?” Tanya Pak Rohim

“sudah pak”

“ kalau gitu bacakan ke bapak”

“ iya pak”

Akupun membaca kembali teks yang sudah kubaca dari tadi. Entah hujan lokal berapa kali setiap aku berbicara dan seberapa banyak aku menghela nafas. Akhirnya teks itu habis kubaca

“hm. Sudah bagus. Tapi intonasinya kurang naik dan lantang. Habis itu kamu juga harus latihan pernafasan. Baca segini aja udah kaya baca 1 kamus plus tanda bacanya aja” katanya mengkritik

“iya pak. Maafkan saya” kataku menunduk

“ya udah. Karena hasil bacaanmu udah cukup bagus, kamu boleh balik ke kelas. Tapi jangan lupa latihan”

“iya pak”

“ya sudah. Balik sana” usirnya

“ya pak. Permisi”

Aku berjalan ke kelas dengan nafas terengah-engah. Aku sudah tidak begitu peduli dengan wajah-wajah yang melihatku dengan mata yang melotot seperti ingin keluar. Aku hanya konsen dengan tapakan kakiku yang seperti pesumo ingin memulai pertandingannya.

DBUKK!! Aku menabrak seseorang

“hey, liat-liat kalau jalan. Kamu jalan Cuma pake kaki aja sih. Mata gak dipake” omelnya

“iya. Maaf. Gak sengaja” kataku

“gak sengaja, gak sengaja. Gak semudah itu keles !!”

“ya maaf”

“kamu harus ganti rugi!” bentaknya

“ganti rugi?” pandangku bingung

“iya. Ganti rugi. diluar mungkin gak luka. Tapi gak tau didalam. Pas didalam ada yang robek”

“hah?” ku pandang dia dengan alis naik sebelah

“ayo ikut” dia menarik tanganku

“eh. Apaan sih. Aku mau ke kelas. Nanti aku mau ulangan matematika”

“emang gurunya siapa?” tanyanya

“ibu Waridah”

“matilah kau. Hahaha!” dia tertawa

“aku mau ke kelas. Kalau mau periksa, sana sendiri” kataku menepis tangannya

“apaan sih. Ayo!” dia menarikku lagi

“gak mau” aku cabut lari

Aku berlari dengan sisa nafas yang masih ada. Dia terus saja mengejarku. Terlihat banya sekali wajah yang memandangi kami dari jendela dan pintu. Aku masih terus berlari. Tapi, dia tetap saja mengikutiku dari belakang. Akhirnya aku sampai di kelas. Aku masuk, tapi dia menarik tanganku

“kamu kenapa? Lepasin tanganku cewek aneh!” bentakku

“ayo ikut. Kamu harus ikut aku ke uks” katanya masih dengan tangan menarikku

“gak mau. Aku mau belajar matematika. Bentar lagi ibu Waridah masuk”

“gak mau tau. Sekarang ikut sama aku”

“gak mau!” aku menarik tanganku yang masih dia tarik. Aku tak perduli hingga dia ikut terbawa masuk ke kelasku. Saat aku duduk di kursi, dia terdiam. Entah apa yang dia pandang hingga jadi begitu. Aku menelusuri pandangannya dan terlihat Reno sedang duduk termenung

“Cool banget!” katanya

“ih . . . udah sana balik ke kelasmu” kataku memarahinya. Tapi, dia malah mendekati Reno.

“hey. Boleh kenalan gak, kak?” katanya dengan memancarkan aura imutnya

“apaan sih ini cewek” bisikku dalam hati

“ada apa?” Reno menanggapinya dengan datar

“Cool banget. Boleh minta foto gak. Nomor Hp juga. Nama FB juga. Alamat Twitter juga. Pin BB juga . . “ dia terus ngerocos gak berenti

“kamu mending pergi dari sini. Nanti Ibu Waridah datang. Digigitnya baru tau rasa kamu” kataku menakut-nakutinya

“kamu kira Ibu Waridah kanibal apa?”

Reno hanya terdiam. dia terus saja memandang ke luar jendela. Aku menelusuri pandangannya dan aku menemuka 2 orang sejoli lagi pacaran

“ya ampun temanku yang satu ini. Kayanya ngenes banget” kataku menyindir

“kakak, kok kakak bengong terus?” Tanya cewek itu

“eh. Gak papa” sahutnya

“kakak ngiri ya sama orang-orang itu?” ceplosnya gak pake rem

“hm? Enggak” dia menjawab dengan nada datar lagi. Rasanya ingin ku jitak kepalanya

“kakak mau gak jadi pacar aku?” tanyanya spontan gak make mikir.

“hahahaha” aku hanya bisa tertawa dan tak bisa kutahan

“kamu gak bakal bisa jadi pacarnya. Dia itu seleranya tinggi. Banyak cewek yang udah nembak dia, dia tolakin semua. Kamu liat aja dia. Dia gak naggepin kamu”

“jahatnya” jawabnya so’ imut

“Ok. Kamu jadi pacarku mulai hari ini” tanggap Reno menghentak bumi dan langit masih dengan muka datarnya

“hah?” aku hanya tercengang mendengarnya. Banyak cewek cantik, pinter, ok semua

“kamu gak salah Ren?” tanyaku lagi

“emang apa pedulimu?” katanya sewot

“ya gak kenapa-kenapa sih, tapi kan masih banyak cewek di sekolah ini yang lebih cantik dan pintar daripada dia. Masa kamu jatuhin harapan mereka dengan pacaran sama cewek gak jelas gini?” tandasku

“Sudah pernah kubilang kan. Kamu itu gak bakal ngerti. Aku hidup di dunia yang jauh berbeda denganmu. Seberapa banyakpun aku jelasin kamu gak bakal ngerti. Sekarang aku pacaran sama dia, apa jadi masalah buatmu?” katanya

“ya gak gitu juga sih”

Matanya merah lagi. Seperti ingin menangis.

“cukup Za. Aku udah pacaran sama Cewek ini. Itu bukan jadi urusanmu. Mending kamu pacaran tuh sama Sira. Kemaren kan kamu sama dia . . .”

“STOPP!!! (berbisik) kamu ngeliat apa aku sama Sira kemarin?” tanyaku takut

“gak usah belaga bego” katanya

“aku gak ngelakuin apa yang ada dalam fikiranmu. Itu Cuma kecelakaan. Mana mungkin aku berani” kataku gemetar

“kamu mungkin mana berani. Tapi Sira bisa aja lebih berani”

“tapi beneran. Aku gak begitu kok. Itu Cuma kecelakaan. Dan itu semua gak terjadi”

“mau itu terjadi kek. Gak terjadi kek. Apa ngerubah fikiranku? Enggak kan. Udah terlanjur Za. Aku udah tau kok. Mending kamu urus dia sana” katanya marah

Dia meneteska air mata. Apa yang terjadi dengan Cowok satu ini?

“dek. Kamu balik ke kelas ya. Bentar lagi masukan” katanya pada cewek itu

“iya kak” dia tersenyum. Tapi seketika berubah saat melihatku dengan menampilkan wajah ingin menghisap darah

Beberapa saat cewek itu pergi, aku masih terdiam. Aku bingung mau ngomong apa sama Reno biar dia gak salah paham dan gak ngebuat rumor aneh di sekolah. Walaupun Reno keliatannya gak ember, tapi habis ngeliat kelakuannya begitu, bisa aja dia jadi keceplosan. Aku berusaha mencairkan suasana dengan mendekat dan memegang lengannya. Tapi, dia menepis tanganku. Dia berlari ke luar. Menyisakan tetesan air mata di sepanjang jalan yang ia lalui. Aku juga merasa sedih tapi aku juga bingung. Apa yang terjadi sama temanku yang biasanya selalu tertawa bahagia. Hari ini jadi sangat sedih dan sensitive seperti ini. Sampai jam masuk pun dia belum juga datang. Terlihat guru piket sedang berkeliling . . .

“Pagi anak-anak”

“pagi bu”

“gurunya siapa ya?”

“hah?” semua orang bingung

“maksud ibu, yang masuk disini jamnya guru siapa ya?”

“Ibu Waridah, bu” serempak mereka menjawab

“oh. Ibu Waridah. Hari ini beliau tidak masuk karena ada kepentingan. Maka dari itu . . .”

“Yeah!!!!” mereka bersorak-sorai kegirangan

“eh. Apaan sih kalian ini? Ini ada tugas dari bu Waridah. Harus dikumpulkan hari ini juga. terakhir dikumpulkan sebelum istirahat pertama. Harus dikumpul. Gak boleh dibawa pulang. Kamu kira pesenan dari warteg apa bisa dibungkus bawa pulang” kata bu guru dengan kecepatan 100 Km/Jam

“ya elah, bu. Hahahah” semuanya tertawa.

“ya sudah. Ini tugasnya. Jangan lupa .  . . .”

“dikumpul . . .” serempak semuanya menyahut

“bagus. Kalau gak dikumpul . . .”

“bawa pulang . . hahahaha”

“iya bawa pulang tapi sama surat keterangan siap tidak dapat nilai matematika” katanya mengancam
“ya ampun,bu. Becanda aja je’. hahaha” sahut Sri

“iya. Iya. Kerjain sana”

“makasih bu” kata kami

“sama-sama. Ibu keliling dulu ya”

“iya bu”

Kelas kembali dalam suasana seperti biasa. Ada yang sibuk dengan tugas itu, ada yang cerita-cerita sendiri. Ada yang sibuk main game online. Serba sibuk sendiri lah pokoknya. Namun aku jadi khawatir dengan Reno. Sedari tadi belum ada datang. Apa yang membuatnya jadi sesedih itu? apa salahku? Melarangnya saja tidak, mengapa dia menangis. Aku jadi kasihan bercampur bingung menghadapinya. Akupun keluar mencari dia. Aku mencari ke WC, gak ada. Di kantin, gak ada. Di taman, gak ada. Dimana sebenarnya anak itu? Akupun berjalan-jalan di koridor menuju kelas lama yang sekarang menjadi gudang.

“aduh. Salah lagi. Padahal bahannya sudah betul. Tapi kok bisa salah?” terdengar ada yang bergumam di balik pintu gudang.

“siapa itu?” aku menengok ke dalam. Aku tak melihat siapa-siapa

“apa itu kamu Ren?” kataku berharap

“meong. . . meong” kucing coklatpun keluar dari ruangan itu. Dia sangat manis. Sangat sangat manis. Aku jadi ingin memeliharanya. Tapi, apa aku bisa? Kucing itupun mendekatiku. Dia menggosok-gosokkan tubuhnya di kakiku. Aku jadi gak tega niggalin dia.

“coba aku bisa melihara binatang. Jelas kuambil kamu”

“meong . . .”

“imut nya. Tapi gak bisa. Aku harus pergi. Lain kali kita main lagi ya . . . “

“meong. . . meong”

“dadah!” kataku sambil melambaikan tangan

Akupun meninggalkannya disana. Aku teringat bahwa tujuanku keluar untuk mencari Reno. Karena gak tau harus kemana, akupun balik ke kelas. Sampainya dikelas . . .

“Za, sudah kah tugasnya. Bentar lagi mau istirahat” Tanya Sri

“ampun aku. Aku belum ngerjain satupun” aku memegang kepalaku frustasi

“Santai betul. Sana ngerjain” katanya

“ya. Eh. Liat Reno kagak?”

“itu dikursinya” katanya yang membuatku bingung

“dikursinya ? ? ?” aku menatap ke kursinya dan tepat dia sedang duduk. Dengan mata sembabnya. Terus mengelap air mata yang gak tau ada atau udah abis. Aku mendatanginya. Lalu dia berkata . . .

“ini. Sudah aku kerjain” dia menyodorkan bukunya

“apa ini?” kataku bingung

“belaga bego. Ini buku. Contek sudah. Bentar lagi mau istirahat. Mau kena tugas 5 bab kamu?” katanya

“ya enggak. Eh. Makasih ya” kataku senang

“hemmm” dia menghela nafas panjang

“Ni anak kenapa, sih?” bisikku dalam hati

Setelah beberapa menit . . .

“ah selesai juga. makasih ya Ren”

“ya”

“kamu kenapa Ren. Kok sedih banget dari tadi pagi” tanyaku

“gak kok. Cuma lagi Bad Mood aja” jawabnya masih dengan wajah kusutnya

“tumben kamu bad mood. Kenapa bisa?” tanyaku kepo

“kamu gak mungkin ngerti”

“ya minimal cerita lah. Biar kamu plong dikit”

“gak mungkin. Ini rahasia. Gak ada 1 makhluk pun yang boleh tau selain aku”

“segitu rahasianya kah hal ini? Ya sudah. Ayo ke kantin”

“gak usah. Aku sudah janji sama Riska”

“siapa Riska?” tanyaku bingun

“cewek tadi pagi” katanya

“kamu beneran pacaran sama dia?” kataku memastikan

“gak tau juga. mungkin” katanya aneh

“ada yah hubungan pacaran disebut mungkin?”

“kamu kan sudah kubilang gak bakal ngerti”

“tau je’ IQ-ku rendah” kataku jengkel

“hahaha” dia tertawa

“gitu dong. Ketawa kaya biasanya. Ngeliat senyumanmu bisa-bisa aku naksir . . .”

“beneran . . . ?” tatapnya berharap

“sama mamamu” tandasku

“gak lucu” semangatnya droup drastis

“hahahahaha” aku hanya tertawa

Aku harap candaan garing itu mengembalikan moodnya. Entah mengapa disaat dia terlihat begitu sedih, aku juga ikut sedih. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin seorang sahabat.

“saatnya istirahat . . .” bel kelas berbunyi

“yeah!!!” kata mereka kesenangan

Terdengar suara seseorang berlari sangat kencang. Dan suara itu mengarah pada kami . . . . ternyata dia Riska

“ayo ke kantin, kak!” ajak Riska

“ayo . .”

“Ren . . .!” panggilku

“kenapa?”

“aku . . .?” memandang pity-sense (pandangan dikasihani)

“kamu? Jalan sama Sira sana”

“oh. Ya sudah. Selamat bersenang-senang” kataku sambil melempar senyum

Aku meninggalkan mereka. Aku pergi ke pinggir lapangan sambil memandangi madding sekolah yang berdiri tegak di ujung sana. Tak terbesit niat untuk melihatnya. Aku hanya merasa hari ini begitu membosankan. Saat aku duduk disana. Ada yang mendekatiku. Aku tak memandangnya hingga aku tak tau siapa dia. Saat aku menoleh, ternyata  dia Sira

“Aku boleh duduk di sini ?” Tanyanya sendu

“b..boleh kok” kataku gugup

“Za. Aku mau Tanya sesuatu sama kamu . . “ katanya menghentakku

“Sesuatu?? apa jangan-jangan accident kemarin?“ Bisikku dalam hati

“tanya apa?”

“ kamu ngeliat aku kaya mana?” tanyanya

“kaya mana? Maksudnya?”

“aku ini terlihat bagaimana di matamu?”

“kamu . . .cantik, cerdas, tinggi seperti model. Semua yang bagus-bagus ada di kamu sih” kataku sambil tersenyum

“tapi . . .” katanya sedih

“tapi apa?”

“kenapa Reno malah pacaran sama Riska . . .”

Trakkk!!! Jantungku rasanya remuk. Jadi selama ini dia baik sama aku Cuma buat dekat sama Reno. Reno terlalu beruntung. Aku tak bisa berkata-kata lagi setelah itu. Aku hanya terbengong dengan wajah yang tak tau apa-apa

“Za? Kaza? Kamu kenapa?”

“eh. Gak papa. Iya ya. Kok bisa” belaga Rapopo  

“kan! Kamu aja bilang gitu. Terus kenapa Reno malah milih Riska?” katanya marah bercampur sedih

“gak tau juga. aku juga ikut bingung” kataku rapopo

“Za, mau gak kamu bantuin aku?”

“bantuin apa?” aku jadi bingung lagi

“bantuin aku misahin mereka”

TRAKK! Jantungku berkontraksi lagi. Segitu niatnya anak ini biar bisa dapatin Reno. Aku bingung. Kalau aku misahin Reno sama Riska, Otomatis Sira bakal pacaran sama Reno dan itu sakit banget. Tapi kalau gak, Sira bakal sedih banget dan aku gak mau itu terjadi. aku jadi dilema begini. Apa yang harus aku lakukan?

“Za? Kok bengong terus sih?”

“i…iya aku bantu” jawabku terpaksa

“wah. Terima kasih ya za. Kamu memang teman terbaikku” katanya bahagia

“apa benar ini semua harus aku lakukan?” bisikku dalam hati

Setelah kejadian itu, aku kembali ke kelas. Sewaktu melintasi gazebo . . .

“kak, aku tau kakak gak serius sama ade” kata Riska yang sedang duduk berdekatan dengan Reno

“maaf ya, dek. Tapi kakak gak bisa ngelakuin itu” katanya dengan suara lembut dan tersenyum

“ade juga tau sebenarnya kakak itu suka sama  . . .”

“stop. Jangan diomongin disini. Kalau semua tau. Apa lagi dia dijamin aku gak mungkin ngeliat mukanya lagi” katanya panik

“kenapa begitu?” tanyanya bingung

“coba kamu fikir pakai logika. Mana mungkin kakak sama dia jadian” katanya sedih

“iya sih kak. Tapi, apa salahnya mencoba?” sarannya

“kalau hal lain patut dicoba. Tapi kalau hal ini, tak ada kemungkinan akan berhasil” katanya bimbang

“benar sih kak. Tapi kan kakak juga yang sakit kalau gini terus”

“mau gimana lagi. Cuma ini yang bisa kakak lakuin sama dia. Tak mungkin lebih” dia pun menangis.

“semangat ya, kak. Mungkin suatu hari nanti kakak bisa ngungkapin sendiri” dia tersenyum

“sebenarnya ada apa sih dengan Reno?” bisikku dalam hati

Aku mengendap-endap meninggalkan mereka berdua. Tapi, aku masih penasaran sama percakapan mereka tadi. Mereka sepertinya sangat serius.

FlashBack :

“stop. Jangan diomongin disini. Kalau semua tau. Apa lagi dia dijamin aku gak mungkin ngeliat mukanya lagi”

“kenapa begitu?”

“coba kamu fikir pakai logika. Mana mungkin kakak sama dia jadian”

“iya sih kak. Tapi, apa salahnya mencoba?”

“kalau hal lain patut dicoba. Tapi kalau hal ini, tak ada kemungkinan akan berhasil”

Aku gak bisa nerka apa yang mereka maksud. Tapi, aku juga harus tau. Bagaimanapun juga dia temanku. Bahkan sahabat terdekatku. Walau kadang bikin jengkel sih. Tapi kalau ngeliat dia sesedih itu, rasanya aku juga ngerasain apa yang dia rasa.

Setelah berjalan cukup lama, aku sampai di depan kantin . . .

“habis mikir begitu, aku jadi lapar” kataku dalam hati

Aku membuka pintu kantin dan ternyata didalam ada Lisa sedang duduk sambil menyeruput tehnya

“Hey, za . . “ sahutnya hangat

“hey. Tumben kamu ke kantin” kataku heran

“iya nih. Lagi pengen minum teh hangat”

“hmm. Oh iya. Diana kok gak ada keliatan ya?” tanyaku nyeplos

“kamu belum dengar ya. Diana kan pindah”

“pindah? Di sisa waktu yang Cuma 3 bulan ini?”

“ya”

“kamu tau dari mana?” tanyaku kepo

“kan ada di madding. Kamu gak liat? Padahal banyak orang bejubel disitu. Kalau bisa roboh tu tiang madding, udah roboh dari tadi”

“oh. Tadi aku liat sih banyak yang bejibun disitu. Tapi aku gak tertarik. Biasanya kan yang dipajang disitu kalau gak fotonya model sekolah, ya paling fotonya anak-anak chiliders”

“hmm. Kamu memang lain ya” dia tersenyum sambil menyeruput tehnya lagi

“bu, teh-nya 1 ya. Jangan terlalu pekat” kataku memesan teh ke ibu Kinar

“iya. Tunggu bentar ya”

“iya bu”

Beberapa saat aku menunggu sambil memandang danau buatan sekolah yang berada tepat di depan kantin. Tenang dan nyaman sekali rasanya. Aku seperti diselimuti awan. Namun sekejap aku merasa ada yang memperhatikanku. Aku melihat ke sekeliling. Tak terlihat apa yang sedang aku cari.

“ternyata, manis juga. hm hm . . .” Lisa tertawa kecil

“kamu bilang apa tadi, sa? Aku gak dengar” kataku bingung

“eh. . . tehnya manis maksudku” katanya agak kaku

Aku hanya melihat dengan perasaan aneh. Tapi, aku masih merasa aku sedang diawasi. Aku mulai melihat dengan jeli. Tapi, aku tak menemukannya. Pintu kantinpun terbuka . . .

“panas sekali diluar . . . “ masuk Pak Rohim

Aku kembali mencari . . .

“Za, Kamu kenapa?” Tanya pak Rohim

“eh . . gak pak. Dari tadi saya ngerasa ada yang ngeliatin saya terus. Tapi kok saya gak ada ngeliat ya?”

“yah. Mungkin perasaan kamu aja. Secara teknis kita ini memang sedang diperhatikan. Diperhatikan oleh tuhan. Jadi kalau ngerasa diperhatikan, mungkin kamu lagi sensitive sama mata tuhan”

“ah. Bapak ini. Kalau itu saya tau. Tapi kalau sekarang bukan itu “ kataku jengkel

“hahahahaha” Pak Rohim Cuma tertawa

“kok bapa malah ketawa? Ilfil aku jadinya” kataku

“kamu ini. (mendekati lisa) Lis, minggir dikit. Bapak mau duduk” katanya

“tapi kan disana ada kursi, pak” menunjuk kursi diujung menghadap jendela

“tapi bapak gak bisa ngeliat kemanisan dari wajahnya ka .. . eh, bu kinar” godanya

“ah. Bapak ini bisa aja”  bu kinar tersipu malu

“ya sudah pak. Saya juga udah selesai. Silahkan duduk pak” kata Lisa. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan Pak Rohim duduk

“makasih ya lis” kata pak Rohim dengan wajah kegirangan

“kok kamu gak balik ke kelas, za?” tanyanya

“loh sudah masukan?” tanyaku

“5 menit lagi” katanya

“udah Sana. Kelasnya Kaza kan pas didepan situ (sambil menunjuk kelasku). Gak 1 menit udah nyampe dia. Mending kamu yang cepet ke kelas. Kan kelasmu paling ujung samping kantor guru” katanya ngeles

“iya deh pak. Aku duluan za”

“iya . makasih ya udah nemenin”

“eh .. i. . .iya” dia tersenyum

“kamu kok baik betul sama Lisa, za?” Tanya pak Rohim dengan alis naik sebelah

“gak papa kali pak. Menebar kebaikan kan bagus. Biar semua orang bahagia”

“terkadang disaat kau menebar kebahagiaan pada orang, ada orang lain yang merasa tersakiti karena itu” kata pak Rohim

“bapak kaya Reno aja, puitis terus kalau bicara. Tau aja kalau saya ini gak puitis. Mana nyampe otak saya”

“hahaha. Ah kamu ini. Terkadang rahasia juga harus diliputi kebohongan agar tak tercium”

“nah kan, puitis lagi. Mana nyampe saya, pak” kataku jengkel

“hahahaha ternyata gak Cuma ring basket aja yang kamu gak nyape. Bahasa bapak aja kamu gak nyampe juga. hahaha” dia hanya tertawa

Sepertinya pak Rohim bahagia sekali saat ini. Aku tak tau Pak Rohim bisa sesenang ini. Yang aku tau Pak Rohim adalah guru paling galak yang pernah ada. Tapi melihat saat-saat ini, penilaianku mulai berubah walau sedikit. Tak terasa waktu sudah hampir masuk kelas . . .

“ya sudah pak. Saya balik dulu. Bentar lagi masukan. Permisi pak”

“iya” dia tersenyum melihatku.

Saat aku keluar . . .

“pak, bapak kayanya dekat banget sama Kaza” Tanya bu Kinar

“hahaha. Semoga saja bisa lebih dekat lagi”

“saya takut, Kaza bapak “anak emas”-kan dari anak-anak lain”

“gak bisa lah bu. Bagaimanapun juga. saya guru yang harus netral. Kalau dia salah, ya salah. Kalau dia benar, ya benar” tandasnya

“yah. Bapak bisa bilang begitu sekarang. Tapi nanti gak tau deh”

“hahaha. Oh iya. Semuanya berapa, bu?”

“Rp 45.000,-“

“loh. Kok mahal banget?” katanya sambil memasang wajah tercengang

“Rp 5.000 buat kopinya, R 40.000,- buat ngocehnya”

“ah ibu ini. Becanda terus”

“bapak juga dari tadi becanda terus”


Di Kelas . . . .

Note : Belajar mandiri

Backsound of Class :

“eh, buku tadi udah dikumpul ya?”

“udah dari tadi”

“aku belum selesai lagi. Diklat lagi aku bisa-bisa”

“sabar ya bray”

“eh, makanan di kantin kaya mana? Ada yang baru kagak?”

“ada. Mie super pedassssss. Mungkin cabainya ada setengah kilo 1 mangkok. Yang makan bisa jadi doelizer”

“jadi bahan tertawaan 1 sekolah kalo gitu. Hahahaha”

“bahagia betul. Nanti kalo nangis baru tau rasa . . . . “

Omongan kelas berlalu. Tak masuk lewat kanan atau kiri. Melainkan mantul ke segala arah. Aku tak bersemangat mengikuti percakapan tak bernilai itu. Aku rasa ingin tidur sampai pulangan saja. Habis dari kantin, aku lalu mengambil posisi meringkung diatas meja kayu penuh coretan itu. Aku ingin tidur sepuasnya. Ada beberapa orang yang memanggilku, aku tak bergeming sedikitpun. Aku merasa sangat ngantuk. Akupun terbawa oleh halusnya benang-benang mimpi . . .

“tuan mau kemana terlebih dahulu?” kata seorang pelayan dengan topeng wajah yang menutupi matanya

“saya tak tau. Saya sepertinya selalu melakukan kesalahan” kataku

“mungkin lebih baik tuan mengikuti saya ke suatu tempat”

“dimanakah itu?” tanyaku

“labirin pelangi” katanya

“baiklah, yang terpenting kau akan selalu ada untuk menunjukkan arah pada saya”

“tentu tuan. Saya akan selalu ada disamping anda” katanya

Kamipun pergi ke tempat itu. Disana terlihat banyak sekali lika-liku menuju ujung jalan. Dari satu jalan terlihat banyak sekali jalan yang bersinggungan, banyak yang memutar, dan tak ada jalan buntu.

“ayo tuan. Tuan mau kearah mana dahulu, saya akan memberikan keterangan dari arah yang tuan pilih”

“baiklah. Mungkin kita akan pergi melewati jalur biru. Karena saya sangat menyukai warna biru”

“warna biru menunjukkan sifat pemalu namun lembut dan penyayang. Walau terlihat kaku dan dingin, tapi warna biru akan selalu ada disampingmu memberikan ketenangan. Nah. Kita akan pergi ke arah mana? Arah warna biru muda atau tua?” kami bertemu jalur bercabang

“mungkin warna biru tua” kataku

“biru tua memiliki sifat dalam dan tenang. Walau terkadang dalam keadaan mencekam, dia akan selalu tenang. Berlawanan dari warna biru muda yang lebih ceria, biru tua lebih cenderung tertutup dan mudah bersedih. Tapi biru tua tak pernah menampakkan kesedihannya dan berusaha terlihat biasa saja. Tapi biru tua juga terkadang sulit ditebak. Karena sifat tertutup dan memendam kesedihan, disaat paling sensitifnya dia kan meledak mengucurkan air mata yang tak bisa ditahan. Sekarang kita bertemu dengan cabang lain. Menurut tuan, kita harus pergi ke jalur biru dan merah, biru dan kuning, biru dan hijau, atau biru dan ungu?”

“saya juga tidak punya fikiran memilih jalan lagi. Bisakah kau jelaskan dari jalur-jalur ini? ” Kataku memohon

“baiklah. Yang pertama jalur biru dan merah. Biru dan merah terlihat sangat bertentangan. biru yang dingin namun juga lembut dan merah yang keras dan aktif seperti tidak bisa akur. Tapi dengan paduan ini kita bisa melihat suatu ciri hampir sempurna dari suatu keadaan. Mereka saling melengkapi. Disaat merah merasa terlalu lelah, biru akan memberikan kehangatan dan menjadikan merah kembali bersemangat. Dan disaat biru terlalu tertutup, dia tidak akan mengobrak-abrik rahasianya dan malah membantunya melepaskan beban.

Yang kedua jalur biru dan kuning. Biru dan kuning terlihat tidak begitu dekat. Karena biru yang selalu memendam kesedihan dan kuning yang selalu terus terang. Kuning terkadang suka membongkar rahasia biru. Maka dari itu kuning dan biru tidaklah cocok saat bertemu.

Yang ketiga biru dan hijau. Biru dan hijau terlihat saling bersahabat. Biru yang mudah sedih dan hijau yang tenang. Hijau akan menyemangati biru disaat-saat sulit.

Yang terakhir adalah biru dan ungu. Biru dan ungu memang terlihat serasi. Tapi jika dipadankan terlalu berdekatan mereka akan saling berusaha menonjolkan diri. Terutama ungu yang selalu mencari perhatian. Biru terkadang mudah tersenggol oleh ungu sehingga biru tak terlihat dan akhirnya sirnah. Secara hubungan mereka seperti musuh bebuyutan dan yang menang selalu ungu”

“terlalu banyak pilihan. Tapi setelah mendengar penjelasanmu, saya merasa cukup tenang. Entah mengapa kau seperti orang yang aku kenal” kataku

“saya selalu ada disamping anda, tuan. Tentu anda mengenal saya walau tidak banyak. (dia terdiam sejenak lalu berkata) Tuan Kaza . . “

“ada apa?”

“mengapa anda tidak bangun sekarang, sepertinya kelas akan berakhir”

Aku tersentak dan terbangun dari mimpi. Aku melotot dan tak tau apa yang terjadi, aku berusaha mengingat kata-kata yang pelayan itu ucapkan. Tapi yang aku ingat dia hanya menjelaskan warna-warna dan hubungan antar warna. Tapi, ada kalimat yang aku ingat secara utuh . .

“saya selalu ada disamping anda, tuan. Tentu anda mengenal saya walau tidak banyak “
Kalimat ini cukup bagus sepertinya. Tapi apa maknanya? Aku bertanya-tanya hingga bel pulangpun berbunyi

“Jam pelajaran telah berakhir. Selamat pulang ke rumah dan kembali lagi dengan semangat yang maksimal”

Sejenak aku melirik ke arah Reno. Dia sepertinya sedang menutupi sesuatu kepadaku. Terlihat disaat aku menoleh, dia memalingkan wajahnya. Aku hanya terdiam dan merapikan peralatan sekolahku. Beberapa saat kemudian . . .

“Pengumuman ini disampaikan kepada seluruh pengisi acara perpisahan kelas 3 diharapkan segera menuju ke aula”

“ya ampun. Mau pulang aja masih sempat dipanggil” kataku menggerutu

“sana sudah. Makin lambat kamu kesana, makin lambat kita pulang” kata Reno

“kamu duluan aja gin, aku pulang sendiri aja”

“udah sana. Nanti aku tungguin”

“iya sudah”

Aku dan Reno pergi ke aula. Terlihat banyak sekali orang ke sana. Apa benar sebanyak ini yang berpartisipasi acara perpisahan tahun ini?

“banyak juga ya yang ikut” kataku

“iya ya. Gak nyangka sebanyak ini”

Sampainya kami di Aula, terlihat Pak Rohim sedang ngomong di atas mimbar . . .

“jadi, Saat Jadwal penampilan akan dilakukan sesuai rencana kemarin. Pertama, pembukaan dengan tarian adat. Lalu pembukaan dengan basmalah. Lalu dilanjutkan tari daerah yang dimoderenkan. Lalu sambutan-sambutan. Lalu drama musical. Lalu pesan-kesan kelas 1 dan 2. lalu hiburan + makan-makan. Ingat. Yang akan tampil berikutnya harus sudah siap dibelakang panggung 5 menit sebelum pementasan diawal berakhir. Jadwal tidak bisa berubah. Yang melakukan keterlambatan akan kena masalah keesokan harinya. Lalu kamu Kaza . . .” Semua orang menoleh kepadaku

“saya?” kataku bingung

“iya. Kamu. Kamu jangan terlambat lagi. Kalau kamu terlambat bukan hanya hukuman kemarin. Tapi bapak tambah lagi”

“i…iya pak”

“ya sudah. Gladi bersih akan dilakukan jam 8.30 disini. Semua sudah harus hadir”

“iya Pak” semua menjawab dengan lemas

“kok lemas banget? Mau kena hukuman?!”

“TIDAK PAK!” semua berteriak. Polusi udara pun terjadi. telingaku sampai berdengung beberapa menit.

“baiklah. Karena semua udah kelar, semuanya bisa pulang”

Kamipun akhirnya keluar dari Aula. Terlihat Riska didepan gerbang

“Kenapa belum pulang ris?” tanya Reno

“nungguin kakak” katanya

“maaf ya ris. Kakak mau pulang sama Kaza” kata Reno

“oh. Ya udah. Riska pulang ya kak” jawabnya lesu yang dibalut senyuman dan sedikit semangat

“jangan gitu dong Ren. Antar dia pulang. Kasian tau” Bisikku

“Tapi kamu?” dia melihatku

“aku bisa jalan kaki” jawabku

“Ris! Sini!” panggilku

“kenapa kak?”

“kamu ikut sama Reno gih. Aku biar jalan kaki”

“gak usah kak. Lagian rumah Riska dekat aja kok”

“gak usah bohong. Udah. Gak usah banyak alasan. Ren, antar gih dia pulang”

“i..iya deh. Ayo Ris” ajaknya

“Hmmm” dia tersenyum

Akupun akhirnya pulang sendirian. Diperjalanan, aku melewati banyak sekali toko. Ada satu toko yang menarik perhatianku. Toko buku. Melihat buku, aku jadi ingat sama Arina. Dia kan suka baca buku. Gak tau kok bisa dia suka sama buku bahasa kita. Kan bahasanya beda. Aku juga bingung kok dia bisa lancar bahasa Indonesia ya? Akupun masuk ke toko itu . . .

“ Selamat datang” kata penjaga toko

“oh . selamat datang” kata orang disampingnya

Kedua lelaki itu sangat dekat. Terlihat mereka saling bercanda ria. Mungkin mereka adalah kakak-beradik. Akupun meninggalkan mereka dan melihat-lihat buku. Berkeliling toko buku itu cukup menarik. Banyak sekali judul buku yang sangat bagus. Ada buku yang berjudul misterius, bahasa asing, cerita fantasi, novel sedih, dan banyak lagi. Namun, aku tertarik dengan buku bersampul biru tua dengan judul “hidup di dunia lain” seperti hidupnya Arina saja. Akupun mengambil buku itu.

“aku beli yang ini” kataku

“wah. Bagus sekali pilihanmu. Buku ini tadi pagi banyak banget. Pas sudah siang begini tinggal 5. empatnya aja udah dipesan. Baiklah. Harganya Rp.120.000“  katanya
Aku membayar buku itu, tapi aku melihat buku lain bersampul merah yang tidak begitu tebal.

“maaf. Yang itu berapa?” menunjuk buku itu

“oh. Yang ini, Rp 80.000”

“kalau gitu digabung saja sama yang tadi”

“jadi totalnya Rp 200.000. jadi uangnya pas ya”

“iya. Terima kasih”

“sama-sama. Semoga harimu menyenangkan”

“kalau hari kita, kaya mana?” goda kakaknya

“mungkin hari kita akan selalu menyenangkan”

“baguslah kalau begitu” dia tersenyum

Akupun meninggalkan mereka. Aku melihat buku yang baru aku tunjuk tadi. Bersampul merah dengan bentuk tulisan indah. Terlihat di sampulnya berjudul “Dunia yang tak terlihat”. Aku harus membacanya nanti. Sampai di rumah . . .

“Aku pulang . . .”

“selamat datang” sambut Arina di dapur dekat pintu

“kamu masak apa?”

“masak nasi gore”

“ih . . . nasi goreng kali”

“itu maksudku”

“aku masuk ke kamar ya . . “

“iya. Siapin air hangat untuk mandi kah?”

“iya. Tolong ya”

“tenang aja”

Akupun melangkah meninggalkannya di dapur. Saat aku masuk ke kamar, rasanya ada yang memperhatikanku. Aku perlahan-lahan menuju jendela. Kuintip, tapi gak ada orang. Aku berbalik dan melihat orang yang hari itu menyiksaku . . .


-----------------------
macam mana nih ceritanya... ada perkembangan dalam tulisan ane? atau malah tambah gaje nih cerita? :v
selamat memantengi cerbung yang minta tapok ini .... bye bye~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih udah mau mampir di blog #alakadar yang gak jelas ini :v
komentar teman semua adalah motivasi bagiku. bahasanya yang bagus yah... biar gak enek buat jawab :v