Swalaaaaauuuu semua!!! \(*0*)/
jumpa lagi dengan saya manusia setengah hantu yang gak ada manfaatnya!!! 3:v
kali ini saya mau kembali meng-up-date cerbung my love #plak
sorry buat yang udah nungguin lirisnya cerbung yang gak guna n gak manfaatnya. tapi.... dengan kalian membacanya mungkin akan jadi lebih bermanfaat (setidaknya gak percuma aku nulis nih cerita disini ) :v
jadi, selamat membaca cerbung kepret ini yah..... (-JL-)
_____________________________________
“yah bapak”
kataku lesu
“cepat.
Sekarang baca baik-baik. Dengerin suramu sendiri. Nanti bapak balik” dia
mendinggalkanku sendiri
“iya pak”
jawabku
“kan sudah
kubilang. Pasti apes lagi pagi ini” bisik Arina
“udah sana.
Pulang kamu. Gangguin aja” bentakku
“ngerinya.
Lagian kan yang lain gak bisa ngeliat aku” pandangnya mohon
“justru
karena itu. Cuma aku yang bisa ngeliat kamu dan cuma aku yang tau dimana kamu.
Karena itu kalau kamu bikin macam-macam kan aku sendiri yang risih ngelatnya”
kataku
“gak. Aku
gak bikin macam-macam” katanya merayuku sambil berpose so’ cute
“udah sana.
Pulang aja” bentakku lagi
“apa katamu,
Za?” sahut pak Rohim
“eh. Enggak
pak” jawabku tegang
“kamu sudah
baca semua teksnya?”
“belum pak.
Sebentar lagi”
“cepat
bacanya”
“iya pak”
sahutku
“tuh kan.
Kena lagi aku. Udah sana” bisikku ke arina
“iya iya.
Lebay banget sih”
“udah sana”
kataku
“iya ah”
“Ehm!” batuk
pak Rohim
“maaf pak”
“hahaha” dia
hanya tertawa
Aku hanya
memandang heran. Mengapa dia malah tertawa. Ada yang lucu? Saat Pak rohim
keluar dari pintu aula, Arina pun pulang dengan wajah sedih. Terbesit dalam
hatiku “sepertinya aku terlalu kasar” Apa itu? Paling nanti dirumah dia sudah
ketawa-ketiwi lagi kaya biasa. Setelah bermenit-menit terlewati. Aku udah baca
teks ini ribuan kali (lebay amat ya’). Pak Rohim pun datang . . .
“sudah
bacanya?” Tanya Pak Rohim
“sudah pak”
“ kalau gitu
bacakan ke bapak”
“ iya pak”
Akupun
membaca kembali teks yang sudah kubaca dari tadi. Entah hujan lokal berapa kali
setiap aku berbicara dan seberapa banyak aku menghela nafas. Akhirnya teks itu
habis kubaca
“hm. Sudah
bagus. Tapi intonasinya kurang naik dan lantang. Habis itu kamu juga harus
latihan pernafasan. Baca segini aja udah kaya baca 1 kamus plus tanda bacanya
aja” katanya mengkritik
“iya pak.
Maafkan saya” kataku menunduk
“ya udah.
Karena hasil bacaanmu udah cukup bagus, kamu boleh balik ke kelas. Tapi jangan
lupa latihan”
“iya pak”
“ya sudah.
Balik sana” usirnya
“ya pak.
Permisi”
Aku berjalan
ke kelas dengan nafas terengah-engah. Aku sudah tidak begitu peduli dengan
wajah-wajah yang melihatku dengan mata yang melotot seperti ingin keluar. Aku
hanya konsen dengan tapakan kakiku yang seperti pesumo ingin memulai
pertandingannya.
DBUKK!! Aku
menabrak seseorang
“hey,
liat-liat kalau jalan. Kamu jalan Cuma pake kaki aja sih. Mata gak dipake”
omelnya
“iya. Maaf.
Gak sengaja” kataku
“gak sengaja,
gak sengaja. Gak semudah itu keles !!”
“ya maaf”
“kamu harus
ganti rugi!” bentaknya
“ganti
rugi?” pandangku bingung
“iya. Ganti
rugi. diluar mungkin gak luka. Tapi gak tau didalam. Pas didalam ada yang
robek”
“hah?” ku
pandang dia dengan alis naik sebelah
“ayo ikut”
dia menarik tanganku
“eh. Apaan
sih. Aku mau ke kelas. Nanti aku mau ulangan matematika”
“emang
gurunya siapa?” tanyanya
“ibu
Waridah”
“matilah
kau. Hahaha!” dia tertawa
“aku mau ke
kelas. Kalau mau periksa, sana sendiri” kataku menepis tangannya
“apaan sih.
Ayo!” dia menarikku lagi
“gak mau”
aku cabut lari
Aku berlari
dengan sisa nafas yang masih ada. Dia terus saja mengejarku. Terlihat banya
sekali wajah yang memandangi kami dari jendela dan pintu. Aku masih terus
berlari. Tapi, dia tetap saja mengikutiku dari belakang. Akhirnya aku sampai di
kelas. Aku masuk, tapi dia menarik tanganku
“kamu
kenapa? Lepasin tanganku cewek aneh!” bentakku
“ayo ikut.
Kamu harus ikut aku ke uks” katanya masih dengan tangan menarikku
“gak mau.
Aku mau belajar matematika. Bentar lagi ibu Waridah masuk”
“gak mau
tau. Sekarang ikut sama aku”
“gak mau!”
aku menarik tanganku yang masih dia tarik. Aku tak perduli hingga dia ikut
terbawa masuk ke kelasku. Saat aku duduk di kursi, dia terdiam. Entah apa yang
dia pandang hingga jadi begitu. Aku menelusuri pandangannya dan terlihat Reno
sedang duduk termenung
“Cool
banget!” katanya
“ih . . .
udah sana balik ke kelasmu” kataku memarahinya. Tapi, dia malah mendekati Reno.
“hey. Boleh
kenalan gak, kak?” katanya dengan memancarkan aura imutnya
“apaan sih
ini cewek” bisikku dalam hati
“ada apa?”
Reno menanggapinya dengan datar
“Cool
banget. Boleh minta foto gak. Nomor Hp juga. Nama FB juga. Alamat Twitter juga.
Pin BB juga . . “ dia terus ngerocos gak berenti
“kamu
mending pergi dari sini. Nanti Ibu Waridah datang. Digigitnya baru tau rasa
kamu” kataku menakut-nakutinya
“kamu kira
Ibu Waridah kanibal apa?”
Reno hanya
terdiam. dia terus saja memandang ke luar jendela. Aku menelusuri pandangannya
dan aku menemuka 2 orang sejoli lagi pacaran
“ya ampun
temanku yang satu ini. Kayanya ngenes banget” kataku menyindir
“kakak, kok
kakak bengong terus?” Tanya cewek itu
“eh. Gak
papa” sahutnya
“kakak ngiri
ya sama orang-orang itu?” ceplosnya gak pake rem
“hm? Enggak”
dia menjawab dengan nada datar lagi. Rasanya ingin ku jitak kepalanya
“kakak mau
gak jadi pacar aku?” tanyanya spontan gak make mikir.
“hahahaha”
aku hanya bisa tertawa dan tak bisa kutahan
“kamu gak
bakal bisa jadi pacarnya. Dia itu seleranya tinggi. Banyak cewek yang udah
nembak dia, dia tolakin semua. Kamu liat aja dia. Dia gak naggepin kamu”
“jahatnya”
jawabnya so’ imut
“Ok. Kamu
jadi pacarku mulai hari ini” tanggap Reno menghentak bumi dan langit masih
dengan muka datarnya
“hah?” aku
hanya tercengang mendengarnya. Banyak cewek cantik, pinter, ok semua
“kamu gak
salah Ren?” tanyaku lagi
“emang apa
pedulimu?” katanya sewot
“ya gak
kenapa-kenapa sih, tapi kan masih banyak cewek di sekolah ini yang lebih cantik
dan pintar daripada dia. Masa kamu jatuhin harapan mereka dengan pacaran sama
cewek gak jelas gini?” tandasku
“Sudah
pernah kubilang kan. Kamu itu gak bakal ngerti. Aku hidup di dunia yang jauh
berbeda denganmu. Seberapa banyakpun aku jelasin kamu gak bakal ngerti.
Sekarang aku pacaran sama dia, apa jadi masalah buatmu?” katanya
“ya gak gitu
juga sih”
Matanya
merah lagi. Seperti ingin menangis.
“cukup Za.
Aku udah pacaran sama Cewek ini. Itu bukan jadi urusanmu. Mending kamu pacaran
tuh sama Sira. Kemaren kan kamu sama dia . . .”
“STOPP!!!
(berbisik) kamu ngeliat apa aku sama Sira kemarin?” tanyaku takut
“gak usah
belaga bego” katanya
“aku gak
ngelakuin apa yang ada dalam fikiranmu. Itu Cuma kecelakaan. Mana mungkin aku
berani” kataku gemetar
“kamu
mungkin mana berani. Tapi Sira bisa aja lebih berani”
“tapi
beneran. Aku gak begitu kok. Itu Cuma kecelakaan. Dan itu semua gak terjadi”
“mau itu
terjadi kek. Gak terjadi kek. Apa ngerubah fikiranku? Enggak kan. Udah
terlanjur Za. Aku udah tau kok. Mending kamu urus dia sana” katanya marah
Dia
meneteska air mata. Apa yang terjadi dengan Cowok satu ini?
“dek. Kamu
balik ke kelas ya. Bentar lagi masukan” katanya pada cewek itu
“iya kak”
dia tersenyum. Tapi seketika berubah saat melihatku dengan menampilkan wajah
ingin menghisap darah
Beberapa
saat cewek itu pergi, aku masih terdiam. Aku bingung mau ngomong apa sama Reno
biar dia gak salah paham dan gak ngebuat rumor aneh di sekolah. Walaupun Reno
keliatannya gak ember, tapi habis ngeliat kelakuannya begitu, bisa aja dia jadi
keceplosan. Aku berusaha mencairkan suasana dengan mendekat dan memegang
lengannya. Tapi, dia menepis tanganku. Dia berlari ke luar. Menyisakan tetesan
air mata di sepanjang jalan yang ia lalui. Aku juga merasa sedih tapi aku juga
bingung. Apa yang terjadi sama temanku yang biasanya selalu tertawa bahagia.
Hari ini jadi sangat sedih dan sensitive seperti ini. Sampai jam masuk pun dia
belum juga datang. Terlihat guru piket sedang berkeliling . . .
“Pagi
anak-anak”
“pagi bu”
“gurunya
siapa ya?”
“hah?” semua
orang bingung
“maksud ibu,
yang masuk disini jamnya guru siapa ya?”
“Ibu
Waridah, bu” serempak mereka menjawab
“oh. Ibu
Waridah. Hari ini beliau tidak masuk karena ada kepentingan. Maka dari itu . .
.”
“Yeah!!!!”
mereka bersorak-sorai kegirangan
“eh. Apaan
sih kalian ini? Ini ada tugas dari bu Waridah. Harus dikumpulkan hari ini juga.
terakhir dikumpulkan sebelum istirahat pertama. Harus dikumpul. Gak boleh
dibawa pulang. Kamu kira pesenan dari warteg apa bisa dibungkus bawa pulang”
kata bu guru dengan kecepatan 100 Km/Jam
“ya elah,
bu. Hahahah” semuanya tertawa.
“ya sudah.
Ini tugasnya. Jangan lupa . . . .”
“dikumpul .
. .” serempak semuanya menyahut
“bagus.
Kalau gak dikumpul . . .”
“bawa pulang
. . hahahaha”
“iya bawa
pulang tapi sama surat keterangan siap tidak dapat nilai matematika” katanya
mengancam
“ya
ampun,bu. Becanda aja je’. hahaha” sahut Sri
“iya. Iya.
Kerjain sana”
“makasih bu”
kata kami
“sama-sama.
Ibu keliling dulu ya”
“iya bu”
Kelas
kembali dalam suasana seperti biasa. Ada yang sibuk dengan tugas itu, ada yang
cerita-cerita sendiri. Ada yang sibuk main game online. Serba sibuk sendiri lah
pokoknya. Namun aku jadi khawatir dengan Reno. Sedari tadi belum ada datang.
Apa yang membuatnya jadi sesedih itu? apa salahku? Melarangnya saja tidak,
mengapa dia menangis. Aku jadi kasihan bercampur bingung menghadapinya. Akupun
keluar mencari dia. Aku mencari ke WC, gak ada. Di kantin, gak ada. Di taman,
gak ada. Dimana sebenarnya anak itu? Akupun berjalan-jalan di koridor menuju
kelas lama yang sekarang menjadi gudang.
“aduh. Salah
lagi. Padahal bahannya sudah betul. Tapi kok bisa salah?” terdengar ada yang
bergumam di balik pintu gudang.
“siapa itu?”
aku menengok ke dalam. Aku tak melihat siapa-siapa
“apa itu
kamu Ren?” kataku berharap
“meong. . .
meong” kucing coklatpun keluar dari ruangan itu. Dia sangat manis. Sangat
sangat manis. Aku jadi ingin memeliharanya. Tapi, apa aku bisa? Kucing itupun
mendekatiku. Dia menggosok-gosokkan tubuhnya di kakiku. Aku jadi gak tega
niggalin dia.
“coba aku
bisa melihara binatang. Jelas kuambil kamu”
“meong . .
.”
“imut nya.
Tapi gak bisa. Aku harus pergi. Lain kali kita main lagi ya . . . “
“meong. . .
meong”
“dadah!”
kataku sambil melambaikan tangan
Akupun
meninggalkannya disana. Aku teringat bahwa tujuanku keluar untuk mencari Reno.
Karena gak tau harus kemana, akupun balik ke kelas. Sampainya dikelas . . .
“Za, sudah
kah tugasnya. Bentar lagi mau istirahat” Tanya Sri
“ampun aku.
Aku belum ngerjain satupun” aku memegang kepalaku frustasi
“Santai
betul. Sana ngerjain” katanya
“ya. Eh.
Liat Reno kagak?”
“itu
dikursinya” katanya yang membuatku bingung
“dikursinya
? ? ?” aku menatap ke kursinya dan tepat dia sedang duduk. Dengan mata
sembabnya. Terus mengelap air mata yang gak tau ada atau udah abis. Aku
mendatanginya. Lalu dia berkata . . .
“ini. Sudah
aku kerjain” dia menyodorkan bukunya
“apa ini?”
kataku bingung
“belaga
bego. Ini buku. Contek sudah. Bentar lagi mau istirahat. Mau kena tugas 5 bab
kamu?” katanya
“ya enggak.
Eh. Makasih ya” kataku senang
“hemmm” dia
menghela nafas panjang
“Ni anak
kenapa, sih?” bisikku dalam hati
Setelah
beberapa menit . . .
“ah selesai
juga. makasih ya Ren”
“ya”
“kamu kenapa
Ren. Kok sedih banget dari tadi pagi” tanyaku
“gak kok.
Cuma lagi Bad Mood aja” jawabnya masih dengan wajah kusutnya
“tumben kamu
bad mood. Kenapa bisa?” tanyaku kepo
“kamu gak
mungkin ngerti”
“ya minimal
cerita lah. Biar kamu plong dikit”
“gak
mungkin. Ini rahasia. Gak ada 1 makhluk pun yang boleh tau selain aku”
“segitu
rahasianya kah hal ini? Ya sudah. Ayo ke kantin”
“gak usah.
Aku sudah janji sama Riska”
“siapa
Riska?” tanyaku bingun
“cewek tadi
pagi” katanya
“kamu
beneran pacaran sama dia?” kataku memastikan
“gak tau
juga. mungkin” katanya aneh
“ada yah
hubungan pacaran disebut mungkin?”
“kamu kan
sudah kubilang gak bakal ngerti”
“tau je’
IQ-ku rendah” kataku jengkel
“hahaha” dia
tertawa
“gitu dong.
Ketawa kaya biasanya. Ngeliat senyumanmu bisa-bisa aku naksir . . .”
“beneran . .
. ?” tatapnya berharap
“sama
mamamu” tandasku
“gak lucu”
semangatnya droup drastis
“hahahahaha”
aku hanya tertawa
Aku harap
candaan garing itu mengembalikan moodnya. Entah mengapa disaat dia terlihat
begitu sedih, aku juga ikut sedih. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin
seorang sahabat.
“saatnya
istirahat . . .” bel kelas berbunyi
“yeah!!!”
kata mereka kesenangan
Terdengar
suara seseorang berlari sangat kencang. Dan suara itu mengarah pada kami . . .
. ternyata dia Riska
“ayo ke
kantin, kak!” ajak Riska
“ayo . .”
“Ren . . .!”
panggilku
“kenapa?”
“aku . . .?”
memandang pity-sense (pandangan dikasihani)
“kamu? Jalan
sama Sira sana”
“oh. Ya
sudah. Selamat bersenang-senang” kataku sambil melempar senyum
Aku
meninggalkan mereka. Aku pergi ke pinggir lapangan sambil memandangi madding
sekolah yang berdiri tegak di ujung sana. Tak terbesit niat untuk melihatnya.
Aku hanya merasa hari ini begitu membosankan. Saat aku duduk disana. Ada yang
mendekatiku. Aku tak memandangnya hingga aku tak tau siapa dia. Saat aku
menoleh, ternyata dia Sira
“Aku boleh
duduk di sini ?” Tanyanya sendu
“b..boleh
kok” kataku gugup
“Za. Aku mau
Tanya sesuatu sama kamu . . “ katanya menghentakku
“Sesuatu??
apa jangan-jangan accident kemarin?“ Bisikku dalam hati
“tanya apa?”
“ kamu
ngeliat aku kaya mana?” tanyanya
“kaya mana?
Maksudnya?”
“aku ini
terlihat bagaimana di matamu?”
“kamu . .
.cantik, cerdas, tinggi seperti model. Semua yang bagus-bagus ada di kamu sih”
kataku sambil tersenyum
“tapi . . .”
katanya sedih
“tapi apa?”
“kenapa Reno
malah pacaran sama Riska . . .”
Trakkk!!!
Jantungku rasanya remuk. Jadi selama ini dia baik sama aku Cuma buat dekat sama
Reno. Reno terlalu beruntung. Aku tak bisa berkata-kata lagi setelah itu. Aku
hanya terbengong dengan wajah yang tak tau apa-apa
“Za? Kaza?
Kamu kenapa?”
“eh. Gak
papa. Iya ya. Kok bisa” belaga Rapopo
“kan! Kamu
aja bilang gitu. Terus kenapa Reno malah milih Riska?” katanya marah bercampur sedih
“gak tau
juga. aku juga ikut bingung” kataku rapopo
“Za, mau gak
kamu bantuin aku?”
“bantuin
apa?” aku jadi bingung lagi
“bantuin aku
misahin mereka”
TRAKK!
Jantungku berkontraksi lagi. Segitu niatnya anak ini biar bisa dapatin Reno.
Aku bingung. Kalau aku misahin Reno sama Riska, Otomatis Sira bakal pacaran
sama Reno dan itu sakit banget. Tapi kalau gak, Sira bakal sedih banget dan aku
gak mau itu terjadi. aku jadi dilema begini. Apa yang harus aku lakukan?
“Za? Kok
bengong terus sih?”
“i…iya aku
bantu” jawabku terpaksa
“wah. Terima
kasih ya za. Kamu memang teman terbaikku” katanya bahagia
“apa benar
ini semua harus aku lakukan?” bisikku dalam hati
Setelah
kejadian itu, aku kembali ke kelas. Sewaktu melintasi gazebo . . .
“kak, aku
tau kakak gak serius sama ade” kata Riska yang sedang duduk berdekatan dengan
Reno
“maaf ya,
dek. Tapi kakak gak bisa ngelakuin itu” katanya dengan suara lembut dan
tersenyum
“ade juga
tau sebenarnya kakak itu suka sama . . .”
“stop.
Jangan diomongin disini. Kalau semua tau. Apa lagi dia dijamin aku gak mungkin
ngeliat mukanya lagi” katanya panik
“kenapa
begitu?” tanyanya bingung
“coba kamu
fikir pakai logika. Mana mungkin kakak sama dia jadian” katanya sedih
“iya sih
kak. Tapi, apa salahnya mencoba?” sarannya
“kalau hal
lain patut dicoba. Tapi kalau hal ini, tak ada kemungkinan akan berhasil”
katanya bimbang
“benar sih
kak. Tapi kan kakak juga yang sakit kalau gini terus”
“mau gimana
lagi. Cuma ini yang bisa kakak lakuin sama dia. Tak mungkin lebih” dia pun
menangis.
“semangat
ya, kak. Mungkin suatu hari nanti kakak bisa ngungkapin sendiri” dia tersenyum
“sebenarnya
ada apa sih dengan Reno?” bisikku dalam hati
Aku
mengendap-endap meninggalkan mereka berdua. Tapi, aku masih penasaran sama
percakapan mereka tadi. Mereka sepertinya sangat serius.
FlashBack :
“stop.
Jangan diomongin disini. Kalau semua tau. Apa lagi dia dijamin aku gak mungkin
ngeliat mukanya lagi”
“kenapa
begitu?”
“coba kamu
fikir pakai logika. Mana mungkin kakak sama dia jadian”
“iya sih
kak. Tapi, apa salahnya mencoba?”
“kalau hal
lain patut dicoba. Tapi kalau hal ini, tak ada kemungkinan akan berhasil”
Aku gak bisa
nerka apa yang mereka maksud. Tapi, aku juga harus tau. Bagaimanapun juga dia
temanku. Bahkan sahabat terdekatku. Walau kadang bikin jengkel sih. Tapi kalau
ngeliat dia sesedih itu, rasanya aku juga ngerasain apa yang dia rasa.
Setelah
berjalan cukup lama, aku sampai di depan kantin . . .
“habis mikir
begitu, aku jadi lapar” kataku dalam hati
Aku membuka
pintu kantin dan ternyata didalam ada Lisa sedang duduk sambil menyeruput
tehnya
“Hey, za . .
“ sahutnya hangat
“hey. Tumben
kamu ke kantin” kataku heran
“iya nih.
Lagi pengen minum teh hangat”
“hmm. Oh
iya. Diana kok gak ada keliatan ya?” tanyaku nyeplos
“kamu belum
dengar ya. Diana kan pindah”
“pindah? Di
sisa waktu yang Cuma 3 bulan ini?”
“ya”
“kamu tau
dari mana?” tanyaku kepo
“kan ada di
madding. Kamu gak liat? Padahal banyak orang bejubel disitu. Kalau bisa roboh
tu tiang madding, udah roboh dari tadi”
“oh. Tadi
aku liat sih banyak yang bejibun disitu. Tapi aku gak tertarik. Biasanya kan
yang dipajang disitu kalau gak fotonya model sekolah, ya paling fotonya
anak-anak chiliders”
“hmm. Kamu
memang lain ya” dia tersenyum sambil menyeruput tehnya lagi
“bu, teh-nya
1 ya. Jangan terlalu pekat” kataku memesan teh ke ibu Kinar
“iya. Tunggu
bentar ya”
“iya bu”
Beberapa
saat aku menunggu sambil memandang danau buatan sekolah yang berada tepat di
depan kantin. Tenang dan nyaman sekali rasanya. Aku seperti diselimuti awan.
Namun sekejap aku merasa ada yang memperhatikanku. Aku melihat ke sekeliling.
Tak terlihat apa yang sedang aku cari.
“ternyata,
manis juga. hm hm . . .” Lisa tertawa kecil
“kamu bilang
apa tadi, sa? Aku gak dengar” kataku bingung
“eh. . .
tehnya manis maksudku” katanya agak kaku
Aku hanya
melihat dengan perasaan aneh. Tapi, aku masih merasa aku sedang diawasi. Aku
mulai melihat dengan jeli. Tapi, aku tak menemukannya. Pintu kantinpun terbuka
. . .
“panas
sekali diluar . . . “ masuk Pak Rohim
Aku kembali
mencari . . .
“Za, Kamu
kenapa?” Tanya pak Rohim
“eh . . gak
pak. Dari tadi saya ngerasa ada yang ngeliatin saya terus. Tapi kok saya gak
ada ngeliat ya?”
“yah.
Mungkin perasaan kamu aja. Secara teknis kita ini memang sedang diperhatikan.
Diperhatikan oleh tuhan. Jadi kalau ngerasa diperhatikan, mungkin kamu lagi
sensitive sama mata tuhan”
“ah. Bapak
ini. Kalau itu saya tau. Tapi kalau sekarang bukan itu “ kataku jengkel
“hahahahaha”
Pak Rohim Cuma tertawa
“kok bapa
malah ketawa? Ilfil aku jadinya” kataku
“kamu ini.
(mendekati lisa) Lis, minggir dikit. Bapak mau duduk” katanya
“tapi kan
disana ada kursi, pak” menunjuk kursi diujung menghadap jendela
“tapi bapak
gak bisa ngeliat kemanisan dari wajahnya ka .. . eh, bu kinar” godanya
“ah. Bapak
ini bisa aja” bu kinar tersipu malu
“ya sudah
pak. Saya juga udah selesai. Silahkan duduk pak” kata Lisa. Dia beranjak dari
tempat duduknya dan mempersilahkan Pak Rohim duduk
“makasih ya
lis” kata pak Rohim dengan wajah kegirangan
“kok kamu
gak balik ke kelas, za?” tanyanya
“loh sudah
masukan?” tanyaku
“5 menit
lagi” katanya
“udah Sana.
Kelasnya Kaza kan pas didepan situ (sambil menunjuk kelasku). Gak 1 menit udah nyampe
dia. Mending kamu yang cepet ke kelas. Kan kelasmu paling ujung samping kantor
guru” katanya ngeles
“iya deh
pak. Aku duluan za”
“iya .
makasih ya udah nemenin”
“eh .. i. .
.iya” dia tersenyum
“kamu kok
baik betul sama Lisa, za?” Tanya pak Rohim dengan alis naik sebelah
“gak papa
kali pak. Menebar kebaikan kan bagus. Biar semua orang bahagia”
“terkadang
disaat kau menebar kebahagiaan pada orang, ada orang lain yang merasa tersakiti
karena itu” kata pak Rohim
“bapak kaya
Reno aja, puitis terus kalau bicara. Tau aja kalau saya ini gak puitis. Mana
nyampe otak saya”
“hahaha. Ah
kamu ini. Terkadang rahasia juga harus diliputi kebohongan agar tak tercium”
“nah kan,
puitis lagi. Mana nyampe saya, pak” kataku jengkel
“hahahaha
ternyata gak Cuma ring basket aja yang kamu gak nyape. Bahasa bapak aja kamu
gak nyampe juga. hahaha” dia hanya tertawa
Sepertinya
pak Rohim bahagia sekali saat ini. Aku tak tau Pak Rohim bisa sesenang ini.
Yang aku tau Pak Rohim adalah guru paling galak yang pernah ada. Tapi melihat
saat-saat ini, penilaianku mulai berubah walau sedikit. Tak terasa waktu sudah
hampir masuk kelas . . .
“ya sudah
pak. Saya balik dulu. Bentar lagi masukan. Permisi pak”
“iya” dia
tersenyum melihatku.
Saat aku
keluar . . .
“pak, bapak
kayanya dekat banget sama Kaza” Tanya bu Kinar
“hahaha.
Semoga saja bisa lebih dekat lagi”
“saya takut,
Kaza bapak “anak emas”-kan dari anak-anak lain”
“gak bisa
lah bu. Bagaimanapun juga. saya guru yang harus netral. Kalau dia salah, ya salah.
Kalau dia benar, ya benar” tandasnya
“yah. Bapak
bisa bilang begitu sekarang. Tapi nanti gak tau deh”
“hahaha. Oh
iya. Semuanya berapa, bu?”
“Rp
45.000,-“
“loh. Kok
mahal banget?” katanya sambil memasang wajah tercengang
“Rp 5.000
buat kopinya, R 40.000,- buat ngocehnya”
“ah ibu ini.
Becanda terus”
“bapak juga
dari tadi becanda terus”
Di Kelas . .
. .
Note :
Belajar mandiri
Backsound of
Class :
“eh, buku
tadi udah dikumpul ya?”
“udah dari
tadi”
“aku belum
selesai lagi. Diklat lagi aku bisa-bisa”
“sabar ya
bray”
“eh, makanan
di kantin kaya mana? Ada yang baru kagak?”
“ada. Mie
super pedassssss. Mungkin cabainya ada setengah kilo 1 mangkok. Yang makan bisa
jadi doelizer”
“jadi bahan
tertawaan 1 sekolah kalo gitu. Hahahaha”
“bahagia
betul. Nanti kalo nangis baru tau rasa . . . . “
Omongan
kelas berlalu. Tak masuk lewat kanan atau kiri. Melainkan mantul ke segala
arah. Aku tak bersemangat mengikuti percakapan tak bernilai itu. Aku rasa ingin
tidur sampai pulangan saja. Habis dari kantin, aku lalu mengambil posisi
meringkung diatas meja kayu penuh coretan itu. Aku ingin tidur sepuasnya. Ada
beberapa orang yang memanggilku, aku tak bergeming sedikitpun. Aku merasa
sangat ngantuk. Akupun terbawa oleh halusnya benang-benang mimpi . . .
“tuan mau
kemana terlebih dahulu?” kata seorang pelayan dengan topeng wajah yang menutupi
matanya
“saya tak
tau. Saya sepertinya selalu melakukan kesalahan” kataku
“mungkin
lebih baik tuan mengikuti saya ke suatu tempat”
“dimanakah
itu?” tanyaku
“labirin
pelangi” katanya
“baiklah,
yang terpenting kau akan selalu ada untuk menunjukkan arah pada saya”
“tentu tuan.
Saya akan selalu ada disamping anda” katanya
Kamipun
pergi ke tempat itu. Disana terlihat banyak sekali lika-liku menuju ujung
jalan. Dari satu jalan terlihat banyak sekali jalan yang bersinggungan, banyak
yang memutar, dan tak ada jalan buntu.
“ayo tuan.
Tuan mau kearah mana dahulu, saya akan memberikan keterangan dari arah yang
tuan pilih”
“baiklah. Mungkin
kita akan pergi melewati jalur biru. Karena saya sangat menyukai warna biru”
“warna biru
menunjukkan sifat pemalu namun lembut dan penyayang. Walau terlihat kaku dan
dingin, tapi warna biru akan selalu ada disampingmu memberikan ketenangan. Nah.
Kita akan pergi ke arah mana? Arah warna biru muda atau tua?” kami bertemu
jalur bercabang
“mungkin
warna biru tua” kataku
“biru tua
memiliki sifat dalam dan tenang. Walau terkadang dalam keadaan mencekam, dia
akan selalu tenang. Berlawanan dari warna biru muda yang lebih ceria, biru tua
lebih cenderung tertutup dan mudah bersedih. Tapi biru tua tak pernah
menampakkan kesedihannya dan berusaha terlihat biasa saja. Tapi biru tua juga
terkadang sulit ditebak. Karena sifat tertutup dan memendam kesedihan, disaat
paling sensitifnya dia kan meledak mengucurkan air mata yang tak bisa ditahan.
Sekarang kita bertemu dengan cabang lain. Menurut tuan, kita harus pergi ke
jalur biru dan merah, biru dan kuning, biru dan hijau, atau biru dan ungu?”
“saya juga
tidak punya fikiran memilih jalan lagi. Bisakah kau jelaskan dari jalur-jalur
ini? ” Kataku memohon
“baiklah.
Yang pertama jalur biru dan merah. Biru dan merah terlihat sangat bertentangan.
biru yang dingin namun juga lembut dan merah yang keras dan aktif seperti tidak
bisa akur. Tapi dengan paduan ini kita bisa melihat suatu ciri hampir sempurna
dari suatu keadaan. Mereka saling melengkapi. Disaat merah merasa terlalu
lelah, biru akan memberikan kehangatan dan menjadikan merah kembali
bersemangat. Dan disaat biru terlalu tertutup, dia tidak akan mengobrak-abrik
rahasianya dan malah membantunya melepaskan beban.
Yang kedua
jalur biru dan kuning. Biru dan kuning terlihat tidak begitu dekat. Karena biru
yang selalu memendam kesedihan dan kuning yang selalu terus terang. Kuning
terkadang suka membongkar rahasia biru. Maka dari itu kuning dan biru tidaklah
cocok saat bertemu.
Yang ketiga
biru dan hijau. Biru dan hijau terlihat saling bersahabat. Biru yang mudah
sedih dan hijau yang tenang. Hijau akan menyemangati biru disaat-saat sulit.
Yang
terakhir adalah biru dan ungu. Biru dan ungu memang terlihat serasi. Tapi jika
dipadankan terlalu berdekatan mereka akan saling berusaha menonjolkan diri.
Terutama ungu yang selalu mencari perhatian. Biru terkadang mudah tersenggol
oleh ungu sehingga biru tak terlihat dan akhirnya sirnah. Secara hubungan
mereka seperti musuh bebuyutan dan yang menang selalu ungu”
“terlalu
banyak pilihan. Tapi setelah mendengar penjelasanmu, saya merasa cukup tenang.
Entah mengapa kau seperti orang yang aku kenal” kataku
“saya selalu
ada disamping anda, tuan. Tentu anda mengenal saya walau tidak banyak. (dia
terdiam sejenak lalu berkata) Tuan Kaza . . “
“ada apa?”
“mengapa
anda tidak bangun sekarang, sepertinya kelas akan berakhir”
Aku
tersentak dan terbangun dari mimpi. Aku melotot dan tak tau apa yang terjadi,
aku berusaha mengingat kata-kata yang pelayan itu ucapkan. Tapi yang aku ingat
dia hanya menjelaskan warna-warna dan hubungan antar warna. Tapi, ada kalimat
yang aku ingat secara utuh . .
“saya selalu
ada disamping anda, tuan. Tentu anda mengenal saya walau tidak banyak “
Kalimat ini
cukup bagus sepertinya. Tapi apa maknanya? Aku bertanya-tanya hingga bel
pulangpun berbunyi
“Jam
pelajaran telah berakhir. Selamat pulang ke rumah dan kembali lagi dengan
semangat yang maksimal”
Sejenak aku
melirik ke arah Reno. Dia sepertinya sedang menutupi sesuatu kepadaku. Terlihat
disaat aku menoleh, dia memalingkan wajahnya. Aku hanya terdiam dan merapikan
peralatan sekolahku. Beberapa saat kemudian . . .
“Pengumuman
ini disampaikan kepada seluruh pengisi acara perpisahan kelas 3 diharapkan
segera menuju ke aula”
“ya ampun.
Mau pulang aja masih sempat dipanggil” kataku menggerutu
“sana sudah.
Makin lambat kamu kesana, makin lambat kita pulang” kata Reno
“kamu duluan
aja gin, aku pulang sendiri aja”
“udah sana.
Nanti aku tungguin”
“iya sudah”
Aku dan Reno
pergi ke aula. Terlihat banyak sekali orang ke sana. Apa benar sebanyak ini
yang berpartisipasi acara perpisahan tahun ini?
“banyak juga
ya yang ikut” kataku
“iya ya. Gak
nyangka sebanyak ini”
Sampainya
kami di Aula, terlihat Pak Rohim sedang ngomong di atas mimbar . . .
“jadi, Saat
Jadwal penampilan akan dilakukan sesuai rencana kemarin. Pertama, pembukaan
dengan tarian adat. Lalu pembukaan dengan basmalah. Lalu dilanjutkan tari
daerah yang dimoderenkan. Lalu sambutan-sambutan. Lalu drama musical. Lalu
pesan-kesan kelas 1 dan 2. lalu hiburan + makan-makan. Ingat. Yang akan tampil
berikutnya harus sudah siap dibelakang panggung 5 menit sebelum pementasan
diawal berakhir. Jadwal tidak bisa berubah. Yang melakukan keterlambatan akan
kena masalah keesokan harinya. Lalu kamu Kaza . . .” Semua orang menoleh
kepadaku
“saya?”
kataku bingung
“iya. Kamu.
Kamu jangan terlambat lagi. Kalau kamu terlambat bukan hanya hukuman kemarin.
Tapi bapak tambah lagi”
“i…iya pak”
“ya sudah.
Gladi bersih akan dilakukan jam 8.30 disini. Semua sudah harus hadir”
“iya Pak”
semua menjawab dengan lemas
“kok lemas
banget? Mau kena hukuman?!”
“TIDAK PAK!”
semua berteriak. Polusi udara pun terjadi. telingaku sampai berdengung beberapa
menit.
“baiklah.
Karena semua udah kelar, semuanya bisa pulang”
Kamipun
akhirnya keluar dari Aula. Terlihat Riska didepan gerbang
“Kenapa
belum pulang ris?” tanya Reno
“nungguin
kakak” katanya
“maaf ya
ris. Kakak mau pulang sama Kaza” kata Reno
“oh. Ya
udah. Riska pulang ya kak” jawabnya lesu yang dibalut senyuman dan sedikit
semangat
“jangan gitu
dong Ren. Antar dia pulang. Kasian tau” Bisikku
“Tapi kamu?”
dia melihatku
“aku bisa
jalan kaki” jawabku
“Ris! Sini!”
panggilku
“kenapa
kak?”
“kamu ikut
sama Reno gih. Aku biar jalan kaki”
“gak usah
kak. Lagian rumah Riska dekat aja kok”
“gak usah
bohong. Udah. Gak usah banyak alasan. Ren, antar gih dia pulang”
“i..iya deh.
Ayo Ris” ajaknya
“Hmmm” dia
tersenyum
Akupun
akhirnya pulang sendirian. Diperjalanan, aku melewati banyak sekali toko. Ada
satu toko yang menarik perhatianku. Toko buku. Melihat buku, aku jadi ingat sama
Arina. Dia kan suka baca buku. Gak tau kok bisa dia suka sama buku bahasa kita.
Kan bahasanya beda. Aku juga bingung kok dia bisa lancar bahasa Indonesia ya?
Akupun masuk ke toko itu . . .
“ Selamat
datang” kata penjaga toko
“oh .
selamat datang” kata orang disampingnya
Kedua lelaki
itu sangat dekat. Terlihat mereka saling bercanda ria. Mungkin mereka adalah
kakak-beradik. Akupun meninggalkan mereka dan melihat-lihat buku. Berkeliling
toko buku itu cukup menarik. Banyak sekali judul buku yang sangat bagus. Ada
buku yang berjudul misterius, bahasa asing, cerita fantasi, novel sedih, dan
banyak lagi. Namun, aku tertarik dengan buku bersampul biru tua dengan judul
“hidup di dunia lain” seperti hidupnya Arina saja. Akupun mengambil buku itu.
“aku beli
yang ini” kataku
“wah. Bagus
sekali pilihanmu. Buku ini tadi pagi banyak banget. Pas sudah siang begini
tinggal 5. empatnya aja udah dipesan. Baiklah. Harganya Rp.120.000“
katanya
Aku membayar
buku itu, tapi aku melihat buku lain bersampul merah yang tidak begitu tebal.
“maaf. Yang
itu berapa?” menunjuk buku itu
“oh. Yang
ini, Rp 80.000”
“kalau gitu
digabung saja sama yang tadi”
“jadi
totalnya Rp 200.000. jadi uangnya pas ya”
“iya. Terima
kasih”
“sama-sama.
Semoga harimu menyenangkan”
“kalau hari
kita, kaya mana?” goda kakaknya
“mungkin
hari kita akan selalu menyenangkan”
“baguslah
kalau begitu” dia tersenyum
Akupun
meninggalkan mereka. Aku melihat buku yang baru aku tunjuk tadi. Bersampul
merah dengan bentuk tulisan indah. Terlihat di sampulnya berjudul “Dunia yang
tak terlihat”. Aku harus membacanya nanti. Sampai di rumah . . .
“Aku pulang
. . .”
“selamat
datang” sambut Arina di dapur dekat pintu
“kamu masak
apa?”
“masak nasi
gore”
“ih . . .
nasi goreng kali”
“itu maksudku”
“aku masuk
ke kamar ya . . “
“iya. Siapin
air hangat untuk mandi kah?”
“iya. Tolong
ya”
“tenang aja”
Akupun
melangkah meninggalkannya di dapur. Saat aku masuk ke kamar, rasanya ada yang
memperhatikanku. Aku perlahan-lahan menuju jendela. Kuintip, tapi gak ada
orang. Aku berbalik dan melihat orang yang hari itu menyiksaku . . .
-----------------------
macam mana nih ceritanya... ada perkembangan dalam tulisan ane? atau malah tambah gaje nih cerita? :v
selamat memantengi cerbung yang minta tapok ini .... bye bye~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Makasih udah mau mampir di blog #alakadar yang gak jelas ini :v
komentar teman semua adalah motivasi bagiku. bahasanya yang bagus yah... biar gak enek buat jawab :v