Minggu, 14 Februari 2016

Secret World - I'm OK. but, just 1 more day

Hey semuanya!!!!
balik lagi ke blog ecek-ecek yang gak berguna dan tak bermanfaat ini :v
kali ini aku mau post cerpen yang udah lama aku buat (lebih tepatnya pas aku kelas 3 smk dulu) semoga cerpen ini ngena di hati para pembaca setiaku semua :v
kalo kagak ngena yah paling gak udah di baca lah... :3
selamat membaca... awas matanya keselip setan :v

"Rey . . . "
"kenapa?" pandang reya
"seandainya aku akan pergi, maukah kau bersamaku cukup untuk 1 hari terakhir?" kata Rio menatap dalam-dalam
"tentu. kau kan sahabatku. tentu aku akan memberikan 1 hari itu padamu. tapi, kau ada maksud untuk pergi?" tanyanya heran
"hmm. tidak ada apa-apa" kata Rio dengan menatap sebuah hiasan kincir angin dengan wajah sedikit sendu
Reya hanya bisa menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Suatu Pagi~~~
Biru langit hari ini benar-benar tidak seperti biasanya. padahal ini musim kemarau. tapi pagi itu awan gelap menutupi langit dengan merata hingga kebanyakan orang berfikir masih malam. namun, tidak begitu pada Rio. dia telah siap menuju sekolah. namun dia benar-benar tak bersemangat. terlihat dari wajahnya yang sekarang sama persis seperti cuaca saat itu. tiada sinar kehangatan yang terpancar di wajahnya.

Disekolah~~~
"ada apa denganmu? sejak 2 minggu ini kau benar-benar tak bersemangat. apa ada masalah?" tanya Reya
"tak apa-apa" jawab Rio dengan tidak meyakinkan
"kita kan sudah sahabatan sejak lama. aku tau. kau pasti ada masalah jika bertingkah seperti ini. jadi jujurlah. ceritakan padaku. kau sudah seperti adikku sendiri. apa kau tak mau bercerita pada kakakmu ini?" katanya
"aku tak tau harus berkata apa lagi. tapi aku saat ini mau makan. apa kau mau ikut?" ajak Rio dengan sisa senyuman yang mengiris hati itu
Reya cuma bisa menurut padanya. dia tak yakin akan meninggalkan Rio sendirian dengan keadaaan seperti itu.

~~oOo~~
"maaf, Ri. hari ini aku harus Latihan Basket. karena tanggal 23 nanti mau tanding. maaf ya" katanya.
"oh. gak papa kok. jadi gak bisa yah? tapi, kalau hari lain, kamu bisa?" Tanya Rio
"mungkin bisa. yang pasti setiap hari jum'at sabtu aku harus latihan dari sore hingga malam. maaf ya" maaf Reya lagi
"gak papa kok. eh. nanti sore, aku boleh kan ngeliat kalian latihan. soalnya aku bosan sendirian di rumah" katanya
"boleh. boleh. kenapa kamu gak ikut main aja?" bujuknya
"kamu tau kan. aku orang yang malas gerak" kata Rio menolak dengan mata yang disipit-sipitin
"walau kamu malas gerak, badamu gak gemuk-gemuk ya? padahal makanmu banyak" katanya sambil tertawa
"haha. lucu" Rio pasang muka datar
"hahaha, jangan marah gitu dong. manisnya hilang nanti. hahaha" tawanya benar-benar tidak bisa terkontrol.
Rio hanya bisa tersenyum melihat tingkah Reya yang garing. walau garing, Rio benar-benar tak bisa melepaskan pandangannya dari Reya. sahabatnya yang sejak dulu bersamanya. atau yang lebih tepat adalah lelaki yang ia sukai.
Dia sudah menyukai Reya sejak pertama bertemu. tepatnya sejak umur mereka 8 tahun karena pertemuan tak sengaja di taman bermain. Rio hanya membagikan makanannya pada Reya yang sedang menangis karena makanannya terjatuh. melihat wajah Reya yang menangis, bukannya kasihan dia malah jatuh cinta. apa lagi saat mata Reya membelalak keluar saat dia berkata "Terimakasih, si biru berwajah manis"

Sorenya~~
"ayo, naik!" katanya sambil tersenyum manis
"i..iya" kata Rio.
dia menjemput Rio dengan motornya. walau tak pantas akan rasa itu, tapi hati Rio tak dapat berbohong. jantungnya terus berdegup kencang berada dekat dengan Reya. walau terkadang Reya bisa sedikit menyebalkan, tapi dia bukan bermaksud untuk mencari masalah. hanya saja Rio membutuhkan sebuah rasa untuk kembali menjalani hidup ini yang dimana selalu didapatkannya pada Reya. Reya sudah bukan sahabat di hatinya. melainkan lebih dari pada itu.

perjalanan itu terasa sangat singkat. baru Rio ingin memandang Reya tepat dibelakangnya. memegang pinggangnya pun belum, mereka sudah sampai di tujuan.
"hey, sini!" panggil Reya yang sudah berdiri di gerbang sekolah
"i..iya" kata Rio mengangguk agak ragu
"kau benar-benar lama" kata Reya mendatanginya lalu menarik tangannya
tangan itu benar-benar hangat. Rio tak sadarkan diri akan kehangatan tangan itu. ditarik seorang malaikat tampan yang selama ini ia puja-puja.

"hey, kamu bawa Rio, Rey?" kata Taku
"iya. dia suntuk dirumah gak ada orang. jadi dari pada nganggur, dia ngikut aja ke sini" katanya
"jadi kamu ikut main, Ri?" tanya Raka
"eh, enggak. aku cuma ngeliat aja. aku jadi suporter aja. hahaha" kata Rio menolak
"apa serunya ngeliatin kita. mending kamu ikutan juga" sahut Zaki
"iya. benar tuh" yang lain pun ikut menyahut
"jadi, kamu mau ikut gak? kebetulan aku bawa baju latihan lebih tadi" tanya Reza
"ayo lah. ayo ikut. banyak orang jadi makin seru. lagian kita juga kurang 1 orang lagi" kata Reza
"i..iya deh. tapi, aku gak bisa main" kata Rio gugup
"tak apa. kau pasti bisa saat melihat kami bermain nanti" kata Reya
Rio terpaksa menuruti permintaan mereka semua. tapi hal yang menjadi titik tolak keengganan Rio ikut saat memikirkan dia akan bermain bersama Reya. dia pun mengganti pakaiannya di ruang ganti dengan pakaian Reya yang dibawanya tadi.

"apa aku bisa?" kata Rio dalam hati.
"ya sudah lah. jalanin aja sudah" katanya meneguhkan fikirannya.
Rio pun keluar dari ruang ganti dan melakukan pemanasan bersama mereka.

"Rio, oper ke sini!" panggil Reza
"i..iya!" katanya lalu melempar bola itu dengan sangat kencang. Reza tidak menyangka saat menangkapnya.
"Whow! kuat benget" kata Reza lalu mengacungkan jempol pada Rio
"Kerja bagus, kawan" kata Reya menepuk punggung Rio dan melanjutkan permainan.
Rio semakin bersemangat dalam permainan dengan dukungan dari Reya.
"Rio! tangkap!" kata Taku
bola itu sangat kencang. Rio tak menyadari bola itu datang dari mana. walau matanya telah melihat bola itu, tapi dia belum siap. bola semakin dekat mengarah ke wajahnya.

BUKK!!!
Bola terbentur pada bahu salah satu pemain. bahu yang beberapa saat lalu berada tepat di hadapan Rio. bahu orang yang selalu berada dalam fikirannya. Untunglah Bahu itu tidak terluka. walau Reya merasa sedikit nyeri yang terlihat di wajahnya. namun, Reya hanya tersenyum padanya.

"Wah. permainan tadi menyenangkan sekali!" kata Taku
"kemampuan kalian juga sudah meningkat dengan baik" sahut Zaki
"namun yang membuatku kaget adalah Rio. dia tak mengerti bermain bola basket, tapi dia memiliki operan yang sangat kuat. darimana kau mendapatnya?" kata Reza merasa heran
"entah. aku pun tak tau" kata Rio merasa malu
"yah itu sih biasa. karena dia sudah biasa ngelempar barang. makanya tangannya kuat banget kalau ngoper bola. hahaha" tawa Reya disambung yang lainnya
"dasar kau ini. kapan aku ngelempar-lempar barang?" Rio cemberut
"ada. saat kau sedang mandi dan kau tak mengunci pintunya. tiba-tiba aku masuk karena tidak terdengar orang lain. sontak saja kau melempariku dengan perlengkapan mandi. untungnya kau tak melemparku dengan pemanas air. hahaha" tawanya
"itu salahmu sendiri. masuk rumah orang gak bilang-bilang. jelas aku kaget. ya namanya orang panik pasti ngelempar barang lah" katanya sambil mengerutu
"sudah, sudah. kalian ini benar-benar senang sekali berkelahi" kata Zaki
"benar itu" sahut Taku
yah. walaupun Rio merasa terganggu dengan olokan Reya. tapi, Rio merasa bahagia disaat yang sama. tapi, kebahagiaan ini tentu akan berakhir di hari terakhir nanti.

~oOo~
"Ri . . ."
"apa?" kata Rio
"kapan kau mau jalan-jalan. kan aku sudah lomba. jadi, aku bisa jalan sekarang tanpa bentrok sama jadwal latihan" katanya
"kapan ya? tapi yakin kamu gak sibuk?" kata Rio ragu
"terserahmu kapan. aku pasti nepatin untuk kali ini" katanya meyakinkan Rio
"ya...ya...ya" kata Rio mengagguk iya tapi kurang yakin
"jadi hari apa?" tanya Reya lagi
"hm.... bagaimana kalau hari . . .

Dihari yang ditentukan~~~
Wushhhhh
Angin berhembus menerbangkan daun-daun malam itu. Rio yang sedang duduk menunggu Reya dibawah pohon yang berdaun menguning. lampu-lampu jalan yang berkedip di hadapan Rio serasa ingin memberitahu suatu hal. tapi, Rio hanya duduk termenung. beberapa saat kemudian terlihat seseorang berlari menuju dirinya sambil melambaikan tangan.

"RIO!!!" panggil orang itu
semakin lama, orang itu semakin dekat. wajahnya mulai terlihat jelas. dialah Reya. lelaki yang sedari tadi ditunggu oleh Rio.
"maaf Ri.huh. aku ketiduran. kamu sudah .. ..  lama nunggu?" katanya masih dengan suara yang ter engah-engah
"entah berapa lama aku menunggumu disini. apa itu ngaruh?" kata Rio sedikit BeTe
"kau benar-benar jujur. bisakah kau bertingkah manis sekali-kali padaku? kalau orang lain pasti akan berkata -"tidak, aku baru sampai"- sedangkan kau benar-benar tidak bisa berkata manis. terutama padaku" katanya
"lalu, apa saat aku berkata seperti itu, kau tau maknanya?" tatap Rio
"wah, mancing nih anak..... eh. apa itu?" katanya menunjuk Kotak yang dibawa Rio
"b...bukan apa-apa" Kata Rio dengan wajah memerah
"apa itu? wajah apa yang baru saja kau pasang? mengapa merah seperti itu?" pandangnya aneh
"hah? merah? dimana?" Rio panik menyembunyikan wajahnya.
"yah sudah. dari pada wajahmu semakin parah seperti itu, ayo kita jalan ke sana" menunjuk sebuah kedai

Disebuah bar....
"kau benar-benar suka minum ya, Rey?" kata Rio memandang Reya yang telah meneguk entah berapa botol bir kecil.
"kau fikir aku ini wanita? aku ini pria. pria sejati. tentu aku kuat minum bir yang cuma seperti ini" katanya yang sudah terlihat berkata ngelantur
"Rey..." tanya Rio memberanikan diri
"ada apa, Ri?" katanya memandang Rio dengan senyum tapi juga dengan wajah yang sudah seperti orang mabuk
"aku mau tanya sesuatu" tanya Rio memberanikan diri
"tanya apa Ri? kau bikin aku deg-degan aja" katanya masih memegang gelas minumnya
"sebenarnya kau merasakan sesuatu gak sama aku?" tanya Rio sambil menunduk
"hmm. tentu aku merasakan sesuatu. kau sudah seperti adikku sendiri. adikku yang paling aku cinta. selain dirimu, aku tak memiliki siapa-siapa. kau kan tau aku hidup disini sendirian. orang tuaku sudah lama pergi dan hanya mengirimku uang makan. selain itu, aku harus pergi mencari uang tambahan. tapi, kau tau suatu rahasia?" katanya membuat Rio penasaran
"rahasia? rahasia apa?" tanyanya
"selama ini aku ingin selalu bersamamu. tapi . . ." dia terdiam sejenak
"tapi?" mataku membelalak
"aku tak ingin kita hanya sebatas kakak dan adik" katanya membuat Rio tersentak
dia menunduk dan berkata . . .
"tapi, aku tak tau apa perasaanmu padaku. kau selalu merasa terganggu berada di dekatku. baru satu minggu yang lalu kau bertingkah manis padaku. hari itu adalah hari yang paling menyenangkan bagiku"
Reya bangkit dari kursinya, berdiri dibelakang Rio, lalu memeluknya dari belakang. dia memeluk Rio dengan erat. entah apa yang ada difikiran Reya. apa dia sebenarnya sangat mabuk hingga tidak tau apa ini memang ingin dia lakukan atau ini karena dia tak sadar. sedangkan Rio, tak tau lagi apa yang sudah difikirkannya saat itu. Wajah Rio hanya bisa memerah karena perlakuan Reya padanya. leher Rio terasa dingin dan sedikit basah. Rio tak tau apa itu. tapi saat menengok, Reya sedang menempelkan bibirnya di leher Rio. semakin lama semakin menaik, semakin naik, lalu bibir itu telah sampai pipi Rio, Reya pingsan setelahnya.
"kau benar-benar membuat kaget. aku yakin kau tak bermaksud begitu. kau tak mungkin mencintai aku seperti aku mencintaimu. lebih baik kita terpisah. aku tak ingin kau masuk dalam lubang hitam yang sama denganku"
Rio mengantar Reya kembali kerumahnya dan segera pulang

Di rumah Rio~~~
Langit malam saat itu sangat indah. langit biru tua dihiasi bintang-bintang dan sebuah bulan sabit. namun, langit seindah itu tak bisa membuat hati Rio bahagia. Dia masih terus duduk termenung di taman samping rumah. Sesekali dia mengangkat cangkir teh yang dibuatnya menuju bibirnya yang tipis.

"kau tau? aku tak akan berada disini esok hari. aku harap kau senang dengan hadiah yang kuberikan" katanya
---Flashback
"aku harap kau melihat kado ini esok pagi. aku tak berharap jawaban. aku hanya ingin kau tau suatu hal yang sangat penting bagiku" kataku sambil menaruh kado di samping tempat tidurnya
"Rio.... Aku ingin bersamamu...." kata Reya mengigau dalam tidurnya

Paginya di bandara~~~
"Pesawat Dengan nomor 456BT harus didelay sekitar 1 jam kedepan karena cuaca buruk di lintasan terbang. maaf atas gangguan ini dan kami mohon agar para penumpang sabar menunggu"

"apa tidak salah? Delay hingga selama itu?" kata Paman Rio yang sedari tadi duduk sambil menghisap rokoknya dengan rasa kesal.

"hm... seandainya Reya tau. tapi aku tau, dia pasti akan membenciku. mungkin dia sudah membuang hadiah yang kuberikan kemarin" kata Rio sambil menunduk

--Di Rumah Reya~~~
"tumben dia ngasih aku kado. biasanya juga aku dikasih pulpen karena suka hilang. paling-paling isinya buku atau ... HA???" Reya terperangah tak menyangka apa yang ada didalamnya.
"i..in...ini...." Reya masih tak menyangka. kau tau apa yang didapatnya?  sebuah jaket Biru dengan penutup kepala yang dapat dilepas. entah bagaimana Rio bisa memikirkan hal itu. tapi Reya benar-benar senang. namun, dalam rangka apa Rio memberi hadiah ini padanya? tentu itu menjadi topik pemikiran yang sangat membingungkan. Rio yang biasanya bisa digolongkan sebagai orang yang pelit memberikan hadiah sebagus itu pada orang lain.
"tapi . . . ini apa?" katanya sambil memegang surat di dalamnya


"Ri, paman mau beli makan dulu. paman lapar nunggu pesawat ini delay sampai 1 jam" kata Paman Rio sambil memegang perutnya
"ya. Rio di sini aja" katanya sambil memegang ponselnya

Detik demi detik terasa sangat cepat. waktu semakin sempit. diwaktu yang tinggal menghitung menit ini, Rio terhisap dalam angan-angan waktu dulu. ia teringat masa ia duduk bersama Reya di cafe favorit mereka . . .
---FlashBack
"Rey . . . "
"kenapa?" pandang reya
"seandainya aku akan pergi, maukah kau bersamaku cukup untuk 1 hari terakhir?" kata Rio menatap dalam-dalam
"tentu. kau kan sahabatku. tentu aku akan memberikan 1 hari itu padamu. tapi, kau ada maksud untuk pergi?" tanyanya heran
"hmm. tidak ada apa-apa" kata Rio dengan menatap sebuah hiasan kincir angin dengan wajah sedikit sendu
Reya hanya bisa menatapnya tanpa berkata apa-apa. tapi, Sontak Reya memegang tangan Rio
"kau adalah salah satu hal terpenting dalam hidupku. jika kau bermaksud untuk pergi, kau harus memberitahuku. setidaknya aku bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya"


seseorang menepuk pundak Rio hingga membuatnya kaget
"Hey, Kau! bukankah kubilang kau harus mengabariku dulu sebelum kau pergi?"
rio memalingkan wajahnya ke arah suara itu. betapa terkejutnya Rio. seseorang yang Rio harapkan kehadirannya berada di dekatnya saat ini. Rio tak tau. bagaimana bisa reya datang ke sini dengan waktu yang sesingkat itu. tapi, saat melihat wajah Reya, semua fikiran yang kusut seperti itu sirnah dengan sendirinya. tergantikan dengan suasana musim gugur yang lembut. mata Reya bagaikan sinar matahari yang hangat. bibir Reya seperti sungai yang tenang. Reya tersenyum dengan sedikit tenaga yang ia miliki setelah berlari tadi. entahlah. di satu sisi Rio berharap akan kehadirannya. di sisi lain, Dalam Hati, Rio takut Reya juga akan terjebak dalam lubang hitam yang kelam sama seperti Rio Selama ini. hidup dalam cinta yang tak logis terealisasikan dalam hidup ini.
"kau? apa yang kau lakukan disini?" tanya Rio sedikit berharap
"apa lagi selain menemanimu di saat-saat sulit ini"
"saat-saat sulit?" Rio terdiam sejenak
"yah. saat-saat seperti ini. aku tau kau akan pergi. entah kemana kau mau. tapi, aku harap kau akan mengingatku. entah sebagai teman, sahabat, atau.."
"kau tau? aku pernah berfikir keras akan kita. bukan sekali-dua kali. hampir setiap hari, jam dan menit setiap melihatmu. aku selalu berfikir akan hal itu. tapi, kini aku yakin akan hal ini. aku tak akan menutup perasaanku lagi. lagi pula mungkin ini akan jadi kali terakhir kita bertemu..." kata Rio
"maksudmu?" Reya tersentak dan wajahnya memerah
"baiklah. aku akan jujur. aku........ mencintaimu sejak lama. entah kapan rasa ini timbul. tapi yang pasti, hatiku memilihmu"
"be...be...ben...."
"iya" kata rio seraya mencium pipi Reya. Reya hanya bisa diam membeku
"aku tak ingin perpisahan kita ini akan menjadi perpisahan yang menyedihkan. kuharap kau tak menangis saat ku pergi. walau kita tak akan pernah bersatu, kau akan tetap menjadi yang pertama dan tak akan terganti" kata Rio.
walaupun begitu, Reya tetap saja tak bisa berbohong dengan perasaannya. ini pertama kalinya merasakan cinta, dan akan menjadi terakhir kalinya Reya menatap orang yang ia cintai. mata Reya mengaliri air mata kesedihan menggambarkan rasa hatinya. walau dia berusaha tersenyum, air mata itu tak kunjung berhenti. Reya memang orang yang kuat. namun kali ini sisi rapuhnya juga terlihat. membuat Rio merasakan hal yang sama.

"maafkan aku Reya. aku tak tau, apa aku bisa kembali lagi ke indonesia atau tidak. tapi yang aku tau, aku harus pergi ke belanda meninggalkan semua kenangan kita. maka dari itu, aku minta maaf padamu. tak pernah jujur padamu. aku selalu menutupi perasaanku padamu. ini mungkin adalah perpisahan yang menyakitkan. namun, aku tak akan pernah melupakanmu" kata Rio menyucurkan air matanya di pelukan Reya
"aku sayang sama kamu, Rio. aku ingin selalu bersama denganmu. aku selalu ingin menggandengmu sambil berjalan-jalan di taman berdua denganmu. aku tak pernah berfikir kalau kau akan pergi. aku sungguh akan merindukanmu. walau kita terpisah, cintaku akan selalu bersamamu, Rio" tangisnya

"perhatian, Pesawat dengan nomor 456BT akan lepas landas sekitar 15 menit lagi, harap para penumpang segera check-in, terimakasih"
"Rio, ayo cep...." Paman Rio terdiam melihat apa yang ada di depan matanya, Rio sedang berpelukan dengan seorang laki-laki
"Pergi kau! jangan dekati keponakanku!" kata Paman Rio sambil memukul tubuh Reya
"sudah paman, hentikan!" kata Rio berusaha melerai. tapi usahanya gagal. Pamannya tidak kunjung tenang. dia terus melemparkan bogem mentahnya ke tubuh Reya. Reya hanya tersenyum dan tak melawan. melihat kesakitan yang Reya rasakan, Rio kembali memeluknya. namun karena itu, Rio juga terkena pukulan itu. Paman Rio Syok dan segera  membawa barang-barangnya dan menarik Rio pergi. namun, Rio tak melepas pelukannya...
"Rio, lepaskan dia. kita akan segera berangkat" Bentak pamannya
"Rio, pergilah. aku tak apa-apa. semoga selamat sampai tujuan" katanya sambil membelai kepala Rio
"tapi..."
"Cepat Rio. aku tak segan-segan akan memukulmu lagi" Bentak Paman Rio lagi
"pergilah. aku baik-baik saja" katanya sambil menuntun tangan Rio melepas pelukannya dari tubuh Reya
dengan berat hati, Rio melepas pelukannya. terlihat Reya tersenyum dan melambaikan tangannya.
"jangan pandang orang itu. dia meracuni hidupmu. kita akan hidup bahagia di Belanda dengan keluarga. kau tak usah fikirkan dia lagi. kau mau menyakiti hati orangtuamu di sana?" kata Paman Rio berbisik
Rio hanya terdiam di kursi pesawat.

"Pakailah sabuk pengaman anda karena kita akan segera lepas landas, terima kasih" kata pramugari
kamipun lepas landas

3 tahun kemudian...
"Rio, are you already? we will be late" kata Alberd menunggu Rio sambil memandang jam tangannya
"owh. Sorry. You, can leave me. i will come after few menutes" kata Rio
"OK, I go firts. Listen. Don't be late, ok?!!" meninggalkannya
"ok! bye!" kata Rio sambil merapikan barang-barangnya

Rio kini menjadi Seorang Mahasiswa di sebuah Universitas di bidang design dan Animation and 3D. hidupnya masih seperti dulu. seorang yang pendiam, memiliki sedikit teman, namun banyak yang mengenalnya. dia akhirnya masuk ke ruangan. dia duduk di tepi kiri lalu mengeluarkan buku catatannya

Dosen dari bidang design, Edgard Wilder menjelaskan hal-hal yang perlu di pahami tentang memperkirakan trend style selama 6-9 bulan kedepan. Rio sudah membaca buku tentang itu dan dia sudah paham akan materi itu. namun....

"Sir! Could it be hold more then 9 mount? what the important element for that?" Rio bertanya
"OK, Rio. Who Can Answer that question? stand up, please?" kata sir Edgar
"Yes, it can. The Important element for that are people interest, Promotion from influential icon, and can be received for all class life" Jawab seseorang dibelakang Rio
"Perfecto!!! What's your name?" tanya Sir Edgard
"My Name is Reya Ardalianto, Sir" jawabnya membuat Rio termenung
Reya? Mungkinkah??? dia berbalik.
"Hey, Rio. apa kabar?" senyumnya . . .

-(THE END)-

"Kau yakin sudah selesai?" Rio melotot
"aku rasa belum" Reya mengacak rambut Rio
TUNGGU SEASON 2-NYA!!!! "Cinta kembali, akankah kembali?"
(Doanya yah bos)



gua baper duluan.... anjir :'v
bijimane? cerpen kali ini? kalo anda gak baper, artinya anda bukan saya (apaan sih?)
terima kasih sudah mau baca cerpen ecek-ecek ini dengan susah payah mengahbiskan waktu teman-teman sekalian. semoga season 2 bisa segera rilis ya :v #kenabogempamanRio

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih udah mau mampir di blog #alakadar yang gak jelas ini :v
komentar teman semua adalah motivasi bagiku. bahasanya yang bagus yah... biar gak enek buat jawab :v