Minggu, 17 Januari 2016

Whisper... where are you?

Hey lagi para fans setiaku #plak... :v


bagaimana kabar kalian? baik? buruk? sakit? diputusin pacar? digantungin? atau cuma di-PHP-in aja :v (sakitnya tuh disini...) yang sabar ya kalo lagi dalam keadaan tidak baik. Semua cobaan pasti ada hikmahnya. intinya tetap jalani hidup dengan sabar ya.... kok jadi ceramah gini???

ok-lah kalo begitu. Kali ini aku mau post cerbung yang pernah aku buat tapi belum selesai ini... hehehe.

Rencananya aku mau lanjutin disini. Tapi kan gak enak dong bacanya kalo depannya dimana, lanjutinnya disini. Jadi aku mau post depannya dulu nih... 

Doakan aku supaya cerbung ini bisa lanjut terus sampe aku punya anak cucu yah... wkwkwkwk (lama amat :v). Aku udah pernah bikin cerita ini sampe eps 3 (ciah... eps. serasa sinetron). tapi aku mau post eps 1 dulu aja yah... yang sabar mantenginnya :v. Jangna lupa komen kritik dan sarannya ya...

Informasi cerita:

  • Judul : Whisper... where are you?
  • Genre : Fantasy, Romance, Supernatural


Prolog~~

Hari-Hari berlanjut seperti biasanya. Senin, Selasa, Rabu . . . hingga kembali ke Senin. Hariku terus berjalan. Tapi, Pada saat itu aku menemukan seseorang diatas tempat tidurku. Siapa dia? dia terlihat normal secara sekilas. Hanya saja . . ada apa dengan punggungnya? Ditumbuhi sepasang sayap?

Dia menjadi pertanyaan besar dalam Hari-hariku mulai saat itu. Aku selalu berbicara dengannya, mengajak dia makan, dan segala hal. Tapi aku terlihat seperti orang kurang waras. Aku Seperti melakukan aktivitas bersama teman hanyalanku. Yap. Dia tidak pernah bisa dilihat oleh orang lain. Hanya aku yang dapat melihatnya. Aku juga bingung akan hal itu.

3 Bulan Terakhir menjadi waktu-waktu aku dan dia agak lebih dekat dari biasanya. karena ibu pergi ke rumah keluarga. Dia jadi lebih leluasa berlaku di Rumah. akupun jadi tidak begitu canggung padanya. Dia juga mulai lebih perhatian denganku. mungkin dia juga mendukunggku dalam merebut hati Sira. Apa benar begitu? Aku harap demikian . . .


Eps 1 : Langkah gebrakan, akankah sukses?


"ayo bangun. kamu gak mau sekolah?" bisik sesuatu pagi itu

"sebentar!. 5 menit lagi!" bentakku

"kalau begini terus, kamu gak bakal ditoleh sama Sira. pria yang malang" katanya

"iya!!! aku bangun!!" kataku Bete

"gitu dong!" senyumnya

    Pagi ini adalah pagi paling bikin jengkel karena hari ini adalah hari senin. dan kalian pasti tau apa yang paling menyiksa. Upacara. Tentu itu jadi momok tersendir bagi para laki-laki sepertiku. Harus mendengar guru yang sedang ceramah panjang lebar kiri kanan atas bawah gak tau kemana arahnya. Tunggu dikasih tanda overtime baru berhenti.

    Sebelum makin jauh, aku perkenalan dulu. Aku Kaza Fahrizal Anwar. Kelas  2 IPA-B SMA 1 Bumi Putra. Anak Tunggal dari pasangan Firman Anwar dan Marwah Fahrizal Diana. Umurku 17 Tahun sejak 1 bulan lalu. Tak ada yang spesial dari hidupku. Remaja yang hanya bisa berharap tanpa bisa melakukan apa-apa. Itulah aku.

    Satu hal yang pasti kalian bingung pada ceritaku saat ini. Siapa yang membangunkanku pagi itu?  Dia . . . entahlah. Apakah dia hantu, jin atau makhluk halus lainnya. Yang pasti hanya aku saja yang bisa melihatnya sepanjang ini. Dia Arina Frasta Miaro. Entah berasal dari mana dia. Yang dia bilang kalau dia itu dari dunia paralel dari planet bernama Urina. Disana sama seperti dunia kita. Tapi ada perbedaan yang signifikan. Disana para Huwi (manusia dalam bahasa mereka) memiliki sayap merpati. Disana juga tak pernah ada asap kendaraan karena tak ada kendaraan disana. Semuanya ditempuh dengan terbang dan berjalan kaki. Disana tak ada logam ataupun besi untuk membuat kendaraan. Hanya ada kayu, tanah, batu dan mutiara golden wings. Mutiara yang menjadi sumber kehidupan mereka. Mereka tidak dapat bernafas tanpa batu ini. Entah bagaimana mekanisme pernafasan mereka sehingga selalu bergantu dengan batu ini. Batu keemasan ini dapat melepaskan senyawa gas yang diperlukan untuk bernafas bagi para Huwi. Tanpa batu ini, dalam kurun waktu 1 tahun mereka akan lumpuh secara mendadak dan kembali ke tempat mereka dilahirkan dengan bentuk telur dengan isi permata. Apa separah itu? Mungkin saja, karena jika batu yang sudah ia buat liontin itu aku sembunyikan, dia akan sangat marah dan tidak berani keluar rumah. Rumah dengan keberadaan batu ini akan tetap terisi oleh senyawa aneh itu. Katanya senyawa itu akan memperbanyak diri jika ada di dalam rumah seberapa luaspun rumah itu. Cerita yang aneh. Akupun masih tidak begitu percaya dengannya.

    Yang menjadi pertanyaan besar adalah “ bagaimana caranya dia sampai disini?”. Dia bilang dia sedang terbang bermaksud untuk pulang ke rumah. Tapi tak tau kenapa dia terbawa angin menuju ke pusaran tornado. dia terombang ambing dan tak tau apa yang akan terjadi. Ia pingsan dan saat terbangun dia telah ada di kamarku. Cerita yang tidak menarik dan tidak dapat dipercaya. Tapi mau tidak mau hanya itu saja yang bisa aku percaya saat ini karena tak dapat pula aku membantah ceritanya.

ð  Disekolah . . . .

“upacara dimulai dalam 2 menit lagi. Semua siswa harap segera menuju lapangan” bel sekolah berbunyi dari kejauhan

“ayo cepat! Kamu bias terlambat nanti”

“ia. Aku tau!” aku mempercepat langkahku.

Sampainya aku di depan gerbang . . .

“eits. Sudah terlambat. Ini sudah jam 7.02. udah terlambat 2 menit. Sekarang kamu berdiri di sana “ kata Pak Rohim Waka Kesiswaan

“i . . . iya pak”

“Pak Rohim!” panggil Bu Ani

“kenapa bu?”

“Diana sakit. Jadi gak ada yang gantiin buat pidato siswa nanti”

“waduh. Beneran gak ada gantinya bu? Kalo begini bisa riber”

“beneran pak. Gak ada yang bisa gantiin. Kalau digantiin sama yang lain, nanti bagian yang ditinggal bakal pincang”

“waduh. Kaya mana ya . . . . Eh, Kaza. Kesini sebentar?”

“kenapa ya pak?”

“kamu gak dihukum hari . . .”

“beneran pak?” tatapan senang

“ia, tapi . . .”

“tapi?”

“kamu harus gantiin Diana buat Pidato siswa hari ini”

“Pi . . pidato?”

“iya. Pidato. Bapak dengar nilai bahasa Indonesiamu bagus”

“ah . . yang bener pak” senyum bangga sok gak percaya

“iya. Jadi kamu mau kan gantiin Diana?”

“tapi pak . .”

“kalau gak mau, kamu harus bersihin semua toilet laki-laki satu sekolah selama 5 hari” ancamnya

“i,,, iya pak. Saya mau, tapi . . .”

“tapi apa lagi?” tanyanya sinis

“tema hari ini apa ya pak?”

“kamu gak ada nyatat jadwal tema ya? Hari ini temanya tentang hubungan fikiran, perasaan dan tindakan”

“maaf pak. Saya bener-bener gak tau” garuk kepala gak gatal

“cepat sana”

“i... iya pak”


    Aku pun pergi menuju posisi. Teks yang bakal kubaca dikasi sama Bu Ani. Detik demi detik terasa mendebarkan. Bukan karena aku gak ngerti yang bakal kubaca. Tapi gara-gara diliatin satu sekolah. Salah sedikit bakal jadi kontroversi. Digosipin satu sekolah. Malahan tiap senin ada yang moto (foto) dari ekskul fotografi. Bisa mati tercengang jalan dikoridor diliatin orang gara-gara fotonya ditempel di madding.

“pembacaan pidato siswa dengan tema hubungan fikiran, perasaan dan tindakan”

“waduh. Giliranku lagi” bisikku dalam hati

“dipersilahkan untuk naik koridor”

    Aku melangkah dengan agak kaku. Aku melihat semua pandangan tertuju padaku. Seperti aku akan ditombak dan akan diberikan hadiah mobil bagi yang bisa menombakku tepat didahi. Gila amat kalau sampai kaya gitu. Kubuka lembara teks tadi. Kuambil nafas dalam-dalam dan . . .

“Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. dengan topic hubungan fikiran, perasaan dan tindakan pagi hari ini, saya akan membawakah sebuah wacana, catatan kecil, kilas balik dari seorang karakter fiksi dalam hidup kita. Dalam hati kita. Penuh dengan bermacam-macam tanggapan dan sindiran aneh yang terhujad. Namun tetap kekal dalam jiwa kita.

    Disetiap pekerjaan, penuh dengan fikiran sebab-akibat yang akan terniang dalam otak kita. Dari hal positif dan negative yang akan menghampiri kita. Ada kalanya kita menggambil tindakan yang sudah kita fikir matang-matang namun tidak maksimal hasilnya. Dan terkadang apa pekerjaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh walaupun itu belum tentu berhasil, kita mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.

    Dari semua pekerjaan yang telah kita lakukan. Bukan hanya fikiran yang kita gunakan, tapi juga perasaan. Kombinasi dari kedua hal itu akan menciptakan suatu gagasan yang akan sangat baik. Tapi, tanpa adanya tindakan untuk mewujudkan, hal itu hanya akan sia-sia saja. Contohnya saja kita belajar rumus matematika, sudah kita fikirkan jawabannya, sudah kita coba menghitungnya dan kita juga yakin kalau itu benar. Tapi jika tidak ada penerapan di dunia nyata, itu hanya akan menjadi catatan kecil tanpa ada gunanya sedikitpun. Ada pula dalam ikatan batin antar keluarga atau manusia dengan manusia lain. . .”
aku terhenti karena tulisannya kabur. Semua melihatku dengan sorotan mata tajam. Entah apa yang ingin mereka lakukan. Terlihat diujung Pak Rohim sedang meremas-remas tangannya. Aku semakin gerogi. Tapi, Aku menarik nafas dalam dalam dan berfikir . . .

“dalam hubungan antara manusia, kita bukan hanya memerlukan pemikiran. Tapi juga perasaan dan tindakan. Contohnya saja kita akan menolong seseorang, kita hanya berfikir untuk menolongnya dan langsung menolongnya saja. Namun kita tak berfikir apa perasaan yang akan dialami olehnya. Menolong seseorang dan hanya berfikir itu hanya sekedar menolong. Tapi orang lain itu belum tentu berfikir demikian. Apa lagi jika lawan jenis yang sudah berpasangan tidak resmi. Yang ada dia fikir kamu mau cari perhatian sama dia. Satu hal lagi. Ada pula yang telah kita fikirkan, dan kita sudah merasa itu adalah hal terbaik dengan waktu terbaik dan suasana terbaik. Tapi karena tidak ada tindakan, kita hanya akan sendiri tak ada yang mengerti. Ungkapkan sekarang. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Tunggu dia sudah diambil orang?
Demikian yang telah saya sampaikan. Kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Selamat pagi dan sampai jumpa di lain kesempatan” aku akhiri pidatoku dan serempak hampir semua orang memberikan tepuk tangan dan lainnya tidak bisa berkata-kata.

“eh narator. Lanjut” kata pak Rohim yang terdengar dari mick di depan gak sengaja

“Pembacaan doa”

Turunnya aku dari koridor, aku merasa sangat plong. Bagaikan terlepas dari rantai yang sudah ditempelkan padaku selama bertahun-tahun. Semua berjalan lancar. Tak terasa upacara telah selesai.

“bagus. Selamat yah . . “ bisik Arina

“hahaha. Bukan apa-apa”

“tapi tadi itu keren loh”

“masa?” nyengir-nyengir

“Hey kak Kaza .. . “ panggil seseorang dibelakangku

“Hey”

“kenalin, kak. Aku Army kelas 1C. Kakak keren banget loh tadi”

“masa sih? Gak ah. Tadi kan ada teksnya”

“tapi ade tau kok tadi teksnya gak bisa kebaca”

“kok kamu tau?” aku heran

“karena yang bikin Teksnya itu aku. Aku sengaja bikin kabur tulisannya yang paling bawah. Buat ngerjain Kak Diana soalnya sombong betul. Dia bilang karya tulis siapapun gak mungkin bisa sebagus punyanya. Padahal yang bikin itu aku. Tapi gara-gara tadi, kakak yang repot. Habis kakak tadi bicara nalar gitu, aku baru nyadar kalau perbuatanku itu salah. Tapi juga baik buatnya. Mulai sekarang aku bakal jujur sama apa yang aku fikirin dan apa yang aku rasain. Terima kasih ya, kak” katanya sambil tersenyum

“i..iya. bukan apa-apa kok. Aku juga baru nyadar sama yang aku bilang tadi. Mulai sekarang aku bakal jujur sama perasaanku”

“baguslah kalau begitu. Kamu tembak aja dia nanti siang” bisik Arinia lagi

“ah kamu ini. Gak mungkin lah. Itu terlalu cepat” kataku kelepasan

“kakak ngomong apa?” pandangnya bingung

“eh.. enggak kok. Cuma ngomong sendiri aja”

“hm hm . . . “ dia hanya tersenyum

“oh. Ya sudah ya. Aku mau ke kelas dulu” kataku

“ oh iya kak” dia kembali tersenyum

“cieh . . cieh. Ada yang naksir tuh”

“ah. Ngaco lu. Paling dia udah punya pacar”

“emang kalau belum punya, mau apa?” senyum jahat

“ah. Udah ah. Gara-gara kamu aku diliat kaya orang gila ngomong sendiri”

“hahaha . . .” Arina hanya tertawa

Dari kejauhan terasa ada yang memperhatikanku sedari tadi. Perasaanku menjadi aneh.

“kenapa?” Tanya-nya

“gak. Perasaan ada yang ngeliati”

“weh. Baru sekali naik koridor sudah ada pengemar rahasianya. Bukan main” sindirnya

“apaan sih. Udah ah. Aku makin diliatin ama orang gara-gara kamu. Semua gara-gara kamu” kataku

“ngambek lagi. Ya sudah. Aku pulang deh. Hati-hati ya”

“udah. Sana pulang”

“iya . . .” dia terbang pulang ke rumah

   Aku berjalan menyusuri koridor kelas. Aku rasa Arina belum pulang. Karena hawa keberadaannya masih ada. Aku melihat ke sekeliling dan terlihat cahaya putih dibalik dinding kelas 1D. Aku berjalan perlahan mendekatinya dan sampainya aku disana aku melihat bulu merpati besar berwarna coklat dilantai

“bulu merpati coklat? Apa Arina? Gak mungkin. Kan seharusnya putih” kataku dalam hati

   Aku berbalik menuju kelas. Hari ini penuh dengan kebosanan. Guru hanya memberikan tugas mandiri dibuku tugas sebanyak 1 bab. Istirahatpun akhirnya datang.


“Cieh. Cool banget, bray!” datang Reno

   Reno Pratama. Temanku sejak kelas 1. Dia itu selalu jadi cowo incaran para cewe di sekolah sejak dia masuk. Berbanding terbalik sama aku yang gak pernah diperhatikan sama cewe manapun. Tinggi 179 cm dan berotot walau gak terlalu kekar. Kulit putih, wajah bersih, style selalu modis, lengkap deh pokoknya. Ikut ekskul basket, band dan English club. 3 ekskul paling ngetop di sekolah. Dia gak pernah kewalahan soal waktu. Cowok mana yang gak ngiri dan minder dekat dia. Apa lagi aku yang tinggi Cuma 165. Beda 14 cm. Kaya kayu patokan tanah sama tiang listrik. Minder? Jelas. Tapi dia suka banget nempel sama aku. Bikin jengkel juga sih kadang-kadang.

“hahaha. Yoi bray. . . “

“Hay, za” sapa seseorang dari belakang

“Sira?” pandangku gak nyangka

“kenapa?” dia menatap bingung

“eh... gak kenapa-kenapa. Duduk, ra” kataku gugup

“hm. Iya” dia tersenyum

“ada apa, Ra?”

“enggak kenapa-kenapa” jawabnya

“cieh. Salah tingkah nih” sindir Reno

“apaan sih”

“Ra, ayo ke ruang guru” datang Lisa teman Sira

“mau ngapain?”

“kan bentar lagi perpisahan. Kita mau nentuin jadwal latihan”

“oh. Iya juga. Ayo. Za, Ren, aku pergi dulu ya”

“yo-i, Ra” kata Reno

Sira pergi menyisakan bayang-bayang wajahnya tepat dihadapanku

“eh, Za?” panggil Reno

Aku tak bisa berpaling dari rambun hitam panjang yang diikat itu

“yah, dia malah bengong” kata Reno

“Kaza sayang” Reno ngelawak

“Ih . . . menggelikan” terasa dikerumuni lintah

“jahatnya. Kamu sekarang selingkuh sama Sira?” katanya

“ngelawaknya gak lucu. Malah menggelikan”

“Hahaha. Kamu sih bengong terus. Tau ay kamu tuh udah kelepek-kelepek sejak pertama kali liat Sira. Tapi gak gitu juga kali”

“kamu mana tau rasanya. Secara kamu belum pernah ketemu tipe perempuan pujaanmu”

“mungkin saat ini aku belum berfikir seperti itu, karena aku masih berusaha untuk setia”

“setia? Sama siapa? Wah. Diam-diam sudah pacaran dia”

“kamu gak bakal ngerti. Kamu gak ada di dunia sepertiku. Mungkin kamu bingung kalaupun kujelasin”

“so’ puitis lo”

“hahaha” dia hanya tertawa. Terlihat matanya memerah.

“matamu kenapa merah?” tanyaku

“merah?” dia salah tingkah

“itu yang sebelah kanan. Merah banget dari pada yang kiri. Kamu habis ngapain? Tumbenan kamu jadi
begini?”

“eh. Gak ah. Tadi pas naik motor kacanya kubuka. Jadi gini deh jadinya”

“ck ck ck. Ada-ada aja kamu ini”

“hihihi” dia hanya tertawa

   Selepas dari kantin, perasaanku ada yang memperhatikanku seperti tadi pagi. Kulihat sekeliling dan terlihat lagi secercah cahaya dibalik kelas 1C. Aku bermaksud untuk mencarinya tapi . . .

“panggilan kepada Kaza Fahrizal Anwar agar segera menuju ruang guru”

“ya ampun. Ini kan istirahat”

Sampainya di kantor

“APA!!?” aku tercengang

“iya, kamu harus mau jadi perwakilan kelas 1 dan 2 untuk membaca teks pesan bagi kelas 3 nanti”

“tapi kan . . “

“mau aja sudah. Kemampuanmu gak usah ditutup begitu. Kami juga tau kok insiden tadi” kata pak Rohim

“tapi kan saya baru tampil sekali. Masa iya langsung ditunjuk buat hal yang penting kaya gitu. Kan kalau salah yang malu bukan Cuma saya. Satu sekolah juga bakal malu gara-gara salah milih” kataku membela diri alasan ngeles

“bener pak. Masa iya dia baru tampil sekali sudah dikasih tanggung jawab besar gitu” kata Lisa

“bapak tau kalau ini tanggung jawab besar. Tapi apa salahnya sih? Kalau gak ada kesempatan buat diasah dan ditunjukin, kaya mana bisa berkembang. Kalianpun waktu pertama kali masuk paduan suara pakai suara hidung semua. Malah kamu Lisa, suaranya paling gak beraturan. Orang do kamu la. Apa gak tercengang satu sekolah dengar suaramu?” kata pak rohim

“iya sih pak, tapi kan masih ada Diana. Kenapa gak dia aja. Lagian dia kan lebih bagus. Dia juga juara baca pidato perjuangan tingkat kabupaten” balasnya

“itu benar. Tapi dia gak bisa gara-gara kena gangguan pita suara. Bicarapun dia harus pelan-pelan. Ada 1 tahun kita duduk nunggu dia selesain pidatonya. Ada pilihan lain?”

“kenapa gak kak Tio kelas 3 IPS-A?” balasnya

“kamu lupa ya? Kan harus kelas 1 atau 2. Kalau kelas 3 yang baca sama aja dia ngasih pesan ke dirinya sendiri. Ngaco nih anak. Ada yang mau perotes?”

“tapi pak . . .” kataku terpotong

“kamu harus mau, atau hukuman yang tadi pagi akan berlaku”

“ih . . tapi kan . . .”

“kamu bakal bisa kok” kata Sira

“bener tuh. Nanti juga dilatih kok sama bu Ana. Apa susahnya sih?” kata pak Rohim.

“iya deh pak. Saya terima” jawabku terpaksa

“gitu dong. Kalau gini kan enak” hela pak Rohim

“jam istirahat akan berakhir dalam 5 menit. Harap segera masuk keruangan masing-masing” bel sekolah berbunyi

“ya sudah kalau gitu. Kan semuanya udah kelar, jadi sekarang pada masuk kelas gih”

“iya pak. Permisih” kami keluar ruang guru

Di kelas . . .

Note di papan tulis: belajar mandiri

“ada apa tadi di kantor?” kata Reno

“masa aku disuruh jadi perwakilan baca pidato buat perpisahan nanti”

“bagus dong kalau gitu” katanya semangat

“ih. Kamu mah enak bilang gitu”

“semangat dong. Itu kan jadi kesempatan besar buatmu. Kamu kan mau jadi pembawa acara berita di TV-TV. Masa ngomong gini aja takut”

“iya sih. Tapi . . . “

“kamu tenang aja. Gua bantu kok. Biar sukses” senyumnya hangat

“iya. Makasih ya”

“ei, pasutri. Udah kelar kah tugasnya. Mau dikumpul nih” Sahut Sri

   Sri Wahyuni. Murid paling rajin di kelas. Suka banget namanya ngerjain tugas. Semua buku yang ada pertanyaannya semua udah dia jawab sejak pertama kali dia beli. Kalau lagi gak ada kerjaan selain ngerjain tugas, dia suka bikin cerpen. Dia udah kaya penulis handal. Semua jenis buku udah dia coba tulis kecuali buku-buku yang berbau hal intim. Dia juga suka bawa buku catatan kecil di lehernya. Gak tau apa yang dia tulis karena setiap hari dia ganti-ganti tuh buku. Katanya udah habis dia tulisin.

“ya ampun. Ngerjain aja belum. Nanti aku yang ngumpul ke kantor deh” kataku panik

“iya. Aku juga belum nih. Nanti kami yang ngantar”

“ya sudah. Tapi ingat. Jangan lewat jam 12. Ibunya mau ijin”

“iya. Tenang aja” kata Reno

“udah. Kerjain sana. Biar cepat selesai” kataku

“iya sayang”

“ih. . . .”

Di koridor menuju kantor

“Ren, apa kamu ngerasa aneh gak hari ini?”

“gak sih. Perasaanku tiap hari gak pernah berubah kecuali hari minggu”

“dasar. Beneran gak ada. Walaupun sedikit?”

“bener. Emang ada apa sih?”

“gak. Perasaan dari tadi pagi ada yang ngikutin aku terus”

“hm . . hm . . hm . . sebenarnya sejak kamu masuk SMA ini kamu udah diikutin terus kok. Kok baru nyadar”

“kok bisa? Siapa?”

“fikirin aja sendiri” katanya bete

“ih. Gak jelas”

   Kami pun sampai di kantor. Terlihat Sira sedang diceramahin sama pak Rohim

“kan bapak bilang, walaupun kamu sibuk sama ekskulmu, kamu juga harus mentingin nilaimu. Ekskul gak bisa naikin nilaimu. Kalau dalam seminggu nilaimu gak kembali kaya sebelumnya, kamu harus keluar dari ekskul dan gak boleh ikut kegiatan ekskul manapun. Dan satu lagi. Kamu juga gak diizinin buat tampil pas perpisahan nanti. Ngerti?”

“ngerti, pak” katanya lemah

“ya sudah kalau ngerti. Sekarang kembali ke kelas”

“iya pak. Permisih”

Dia berjalan dengan pandangan kosong dan tidak menghiraukan aku di depannya.

“Sira! Awas!” aku teriak

“PLAKK!” kepalanya terpentok pintu dan tepat memberi tanda merah dikeningnya.

“ eh, aduh ini anak. Bawa dia ke uks sekarang!” kata pak Rohim

“iya pak” kata kami

Kamipun membawa Sira ke uks. Semua orang dikoridor melihat kami dengan tatapan aneh. Semoga itu bukan awal dari gossip. Sampainya kami di uks . . .

“waduh, Za. HPku ketinggalan di kantor guru tadi. Aku balik dulu ya”

“iya. Sana gih cepat!” kataku

   Akhirnya hanya ada aku dan Sira didalam uks. Walau uks ini tidak begitu sempit dan pintu masuk bisa melihat apapun yang ada di dalam, tapi nafasku sangat sesak. Jantungku berdetak kencang. Hatiku tak karuan. Otakku mulai berfikir yang tidak-tidak. Aku menepis perasaanku. Aku mengambil kain dan air es. Aku menyapu keningnya yang lebam.

“au!” katanya kesakitan

“aduh. Maaf. Sakit ya?”

   Dia hanya terdiam mungkin itu hanya reflek saja. Tangannya gemetaran, akhirnya kuberanikan diri untuk memegangnya agar dia bisa lebih tenang. Namun dia melepaskan dan menarik dasiku. Kepalaku langsung mendekat ke wajahnya. Sontak aku terdiam bagai patung. Dunia serasa berhenti berputar. Waktu berhenti berjalan. Aku tak bisa apa-apa.

“Apa harus aku melakukannya?” Dalam hatiku berbisik

   “Byurr!!” terdengar suara air terjatuh. Aku terkaget. Aku segera menjauhi wajahku dari Sira. Aku berdiri dan menuju tempat suara itu. Terlihat 2 plastik minuman yang telah tumpah isinya dan terlihat tetesan air tak berwarna menyusuri koridor walau jaraknya berjauhan. Terlihat seseorang berlari menjauh dari koridor itu. Aku takut orang itu bakal nyebarin gossip tentang hal tadi. Jantungku berdebar makin kencang. Aku jadi ingin lari. Tapi aku kasihan dengan Sira sendirian di sana. Aku jadi bingung. Tarlihat dari Lisa dari arah kantin.

“Lisa!” panggilku

“kenapa, za?”

“kamu jagain Sira di uks ya?”

“hah? Sira kenapa?” tanyanya panik

“gak. Tadi pas dia dari kantor pas mau keluar malah ngantup pintu kencang banget. Jadi dia pingsan”

“ya ampun. Ya udah. Biar aku yang jaga. Makasih ya udah di antarin”

“iya. Makasih ya”

“iya. Gak papa kok” katanya

   Akupun pergi menuju kelas. Kelas udah kosong. Tinggal tasku aja di dalam. Untung kelas udah bersih, jadi gak usah repot-repot nyapu lagi. Tapi, kok Reno udah gak ada ya? Biasanya kalau pulangan dia selalu ngajak sama-sama. Apa dia ada hal ya? Mungkin aja. Dia kan harus turun ekskul basket nanti. Akupun akhirnya pergi pulang.

   Diperjalanan pulang . . .

“sssshut!!” seseorang berbisik

“siapa?” aku bertanya sambil melihat ke segala arah.

“disini!” katanya. Dia ternyata ada di gang sempit

“sini!”

“aku?”

“iya. Cepat” katanya

   Akupun mendekatinya. Dia menarikku masuk ke gang itu. Kiri, kanan, kiri, kanan, kanan, aku gak ingat lagi belok mana. Dia mendorongku hingga aku terjatuh.

“hey! Apaan sih!”

“kamu jangan dekat-dekat sama nona Sira. Atau kau akan mati di tanganku. Camkan itu baik-baik!” bentaknya

“siapa kamu ngelarang-ngelarang aku? Pacarnya? Bukan kan?”

“aku penjaganya. Kamu jangan macam-macam. Jangan pernah megang tangannya. Apalagi sampai nyium dia!” dia langsung meninjuku hingga hidungku mengeluarkan darah

“kamu kenapa? Cuma penjaga aja, toh. Kalau dia sukanya sama aku kaya mana?”

“kamu berani ya!” bentaknya

Dia meninjuku telak di perutku hingga aku pingsan. Saat ku terbangun hari sudah gelap.

“siapa sih tadi? Aduh. Sakit banget lagi. Udah jam berapa ini?”

“Kaza!” panggil Arina dari atasku yang terlihat seperti sedang mencariku

“hey! Aku di bawah!”

“kamu ngapain disini. Ini udah malam. Kenapa belum pulang? Aku sendirian tau di rumah”

“kamu gak ngeliat aku bonyok gini?”

“kamu habis kelai?”

“enggak. Aku habis makan cendol”

“pasti belum bayar udah lari. Jadi kamu dipukul deh sama yang punya”

“ye . . . dikiranya aku begitu betulan lagi. Ya enggak lah. Aku tadi habis dipukul sama orang”

“kenapa emangnya?”

“gak tau. Ada yang ngaku-ngaku jadi penjaganya Sira. Dia marah kalau aku dekat-dekat sama dia”

“wah, ada saingannya nih. Hati-hati loh”

“aku tetap akan berjuang agar Sira bisa menerimaku menjadi pacarnya”

“yah. Yah. Yah. Ayo kita pulang”

“eh bentar. Itu bulu sayapmu rontok” sambil nunjuk bulu yang terjatuh dibawahnya

“rontok? Gak mungkin. Bulu sayapku gak mungkin rontok. Karena yang bisa rontok itu Cuma sayap Huwi laki-laki. Kalau perempuan gak mungkin rontok kecuali lagi sakit keras”

“hah? Jadi itu bulu siapa dong?”

“gak tau juga. Lagian ini warnanya coklat. Sayapku kan putih”

“bulu coklat? Oh iya. Tadi pagi kan ada aku bilang kalau aku diikutin, nah aku nyusul ke tempat orang yang ngikutin aku. Pas aku sampai yang aku dapat cuma bulu coklat kaya gitu”

“coklat? Ini bener-bener langka. Karena yang bisa punya bulu coklat Cuma anggota kerajaan aja”

“haa? Anggota kerajaan?”

“iya. Dan kalau coklatnya segelap ini biasaanya keturunan keluarga kerajaan”

“kok aku gak ngerti ya?”

“ya sudah, nanti aku jelasin di rumah”

Sampai dirumah didalam ruang keluarga . . .

   “gini nih. Di Urina dipimpin oleh seorang raja dan ratu. Raja dan ratu memiliki gen sayap berwarna coklat gelap. Dahulu saat umur mereka baru 16 tahun, sayap mereka masih berwarna putih. Namun saat masuk tahun ke 17 umurnya, warna sayapnya akan berubah secara langsung. Dipagi hari saat terbangun, dia akan dinobatkan sebagai seorang anggota keluarga kerajaan. Ada pula yang memiliki sayap berwarna coklat muda akan menjadi anggota keluarga di daerah atau pulau lain.

   Urina terbagi atas 12 bagian dan aku tinggal di pusat pemerintahan. Di kota Uranopolis. Ada juga kerajaan Seanopolis sebagai kerajaan laut. Rainopolis, Firanius, dan Antolium sebagai kerajaan peramalan musim kedepan. Fladarisis dan Cube sebagai kerajaan pengontrol dunia bawah atau bencana alam. Richirick sebagai kerajaan pangan, Flamarizard sebagai kerajaan ilmu pengetahuan, Contaminior sebagai kerajaan pembersihan. Yang satu itu memang agak aneh. Itu kerajaan untuk merehabilitasi para Huwi yang sakit keras, atau bermasalah. 2 kerajaan lain adalah kerajaan Rotam dan Lisu. Kerajaan Rotam adalah kerajaan persinggahan atau mungkin lebih tepat sebagai kerajaan penyaluran segala hal dari pusat ke daerah lain. Sedangkan kerajaan Lisu adalah kerajaan Tanah angin alias kerajaan hukum”

“ribet amat sih. Bukannya kalian tinggal di 1 planet. Kok dipimpin 1 raja dan 1 ratu?”

   “yah begitu adanya. Raja mengambil bagian Seanopolis, Fladarisis, Cube, Flamarizard, dan Contaminior. Sedangkan Ratu memerintah bagian lain selalin Uranopolis dan Lisu. Untuk kerajaan Uranopolis akan diperintah bagi keduanya dan kerajaan Lisu akan diperintah oleh raja dan ratu terdahulu sebelum mereka wafat. Jika mereka telah wafat, maka akan dicari Raja dan Ratu yang baru untuk memerintah kerjaan-kerajaan bagiannya dan Raja dan Ratu tadi akan memerintah di kerajaan Lisu”

“kedengarannya masih ribet. Apa gak salah ya?”

“gak lah. Yang tinggal di sana siapa sih? Kok kamu yang sok tau?”

“ya gak gitu. Tapi kalau didengar-dengar masih gak masuk akal dan mekanisme pemerintahan terlalu sulit
dicerna. Sebenarnya gambar planet dan kerajaan-kerajaan itu kaya mana sih?”

“sebentar. Aku ambil kertas dulu”

“begini!”



“beneran planet Urina begini gambarnya?”

“yah mungkin gak sesederhana ini. Tapi garis besarnya sih begini”

“tapi kok Flamarizard gak rata gitu?”

“memang gak rata karena Cuma disitu dataran tinggi di Urina. Karena tinggi, disana udaranya cukup dingin dari pada yang lain. Oh iya. Disana dinginnya gak kaya disini. Disana dingin bener2 dingin, disini dinginnya masih bisa dibilang hangat”

“apa bener? gak percaya aku”

“katanya sih gitu. Aku belum pernah kesana. Katanya kalau kamu kesana gak bawa batu golden wings yang sebesar kepalan tanganmu, kamu gak bakal bisa benafas. Karena disana pelepasan gas pernafasan sangat cepat ternetralisir”

“ribet amat yah planetmu itu”

“tapi seribet apapun, disana gak pernah tuh ada asap kendaraan yang bau kaya disini”

“ya iya lah. Disana kan apapun yang mati bisa kembali tumbuh jadi tunas baru, gak bakal jadi minyak sumber tenaga, dan lagian disana gak ada logam, besi, atau sejenisnya, jadi gak bisa buat kendaraan”

“nah itulah hebatnya planet kami. Dirancang dengan arsitektus dan disusun dengan bahan-bahan yang aman. Gak akan merugikan kami dimasa depan”

“sebentar. Tadi kan kamu bilang kalau anggota keluarga kerajaan itu punya sayap berwarna putih sebelum berumur 17 tahun. Bagaimana bisa pas masuk 17 tahun sayapnya berubah warna? Kan mereka gak punya gen aggota kerajaan?”

 “nah. Zaman dahulu sebelum planet kami terbentuk, nenek moyang kami adalah 19 wanita dan 1 pria. Dahulu planet Urania tidak begitu besar. Hingga perjalanan menuju tempat tidak begitu sulit. Karena perkawinan itu, hasil nenek moyang kami pertama lahir. Katanya hasil perkawinan itu menghasilkan 20 telur Huwi. karena banyaknya telur tersebut, gen kami semua terpencar. Tapi, bukan berarti mudah menjaga telur-telur Huwi, karena banyaknya predator telur Huwi hingga yang terselamatkan hanya ada 5 telur. Karena telur itu begitu besar dan sulit untuk disembunyikan ataupun dibawa lari oleh nenek moyang, nenek moyang berdoa bersama-sama untuk merubah ukuran keturunan mereka menjadi lebih kecil. Karena itu kami semua berada dalam bentuk sekecil ini. Dahulu katanya nenek moyang sangat besar, sebesar 15 kali lipat dari menara Eifel”

“wah, besar banget. Tapi jauh banget ya besarnya dari kalian”

“ya gitu deh. nah lanjut cerita. Saat ajal para nenek moyang sampai, keturunannya sudah sangat banyak. merekapun mati dan darahnya bertumpahan diseluruh penjuru Urina. Dari darahnya mengalir batu Golden Wings, Urina menjadi Lebih besar hari demi hari. Lama-kelamaan tumbuh Pepohonan yang sangat rimbun dari sisa bangkai mereka, dari situlah terbentuk Kerajaan-kerajaan”

“yang bikin aku bingung, kaya mana bisa kalian keluar sebagai telur, 19 wanita 1 pria sebagai nenek moyang, dan bangkai mereka menjadi kerajaan-kerajaan?”

“kalau keluar sebagai telur aku juga gak tau. Sampai terakhir aku di Urina gak ada informasi apapun dari Sekolah. Kalau 19 wanita dan 1 pria yah memang begitu mitologinya”

“bukannya ada 19 wanita plus 1 pria. Seharusnya kan kalau mereka mati akan menjadi 20 kerajaan, kenapa Cuma 12 kerajaan?”

“oh. Dalam perkembangan zaman, 7 kerajaan yang lain sudah melebur dan masuk ke wilayah yang lain. Sedangkan 1 kerajaan yang sisanya tenggelam ditelan Urina. Katanya kerajaan itu ditelan karena perintah dari tuhan untuk mengatur kegiatan perut Urina”

“hah? Gak ngerti lagi aku jadinya”

“ya begitu maksudnya. Itu udah yang paling sederhana”

“pusing aku dengernya”

“Jam 9, Jam 9. Waktunya tidur . . .” jam dinding berbunyi

“ya sudah, udah malam. Tidur gih sana”

“iya. Udah cape aku dengar dongengnya”

“enak aja dongeng. Itu mitologi!”

“terserah lah. Selagi aku belum pernah ngeliat, aku jadi gak bisa terlalu percaya”

“hmm, itulah kamu. Susah percaya sama orang. Udah sana. Tidur. Biar besok aku gak usah teriak kencang-kencang kaya kemaren”

“kamu kira aku mau apa kamu teriakin kaya gitu”

“udah sana tidur. Gak usah banyak protes”

“iya iya” kataku mengangguk

Dia hanya tersenyum. Setelah aku tidur di kamar, dia pergi keatas atap . . .


“aku akan mencoba hal itu. Itu akan lebih baik dari pada dia terus memandangku seperti ini. Demi rasa ini, aku juga harus berjuang” kata Arina menenangkan fikirannya....


Bijimane??? bagus kagak? jelek kagak? aneh kagak? kalo gaje harap maklum yah karena yang bikin orangnya juga gaje :v

makasih loh sudah mau baca nih cerita kagak jelas. semoga cerita ini menginspirasi fikiran teman-teman semua buat bisa ngayal punya makhluk gaib cantik kayak gitu #korbanlamamenjones...

aku mohon komen kritik dan saran nya yah... sampai jumpa di eps selanjutnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih udah mau mampir di blog #alakadar yang gak jelas ini :v
komentar teman semua adalah motivasi bagiku. bahasanya yang bagus yah... biar gak enek buat jawab :v