Hey lagi para fans setiaku #plak... :v
bagaimana kabar kalian? baik? buruk? sakit? diputusin pacar? digantungin? atau cuma di-PHP-in aja :v (sakitnya tuh disini...) yang sabar ya kalo lagi dalam keadaan tidak baik. Semua cobaan pasti ada hikmahnya. intinya tetap jalani hidup dengan sabar ya.... kok jadi ceramah gini???
ok-lah kalo begitu. Kali ini aku mau post cerbung yang pernah aku buat tapi belum selesai ini... hehehe.
Rencananya aku mau lanjutin disini. Tapi kan gak enak dong bacanya kalo depannya dimana, lanjutinnya disini. Jadi aku mau post depannya dulu nih...
Doakan aku supaya cerbung ini bisa lanjut terus sampe aku punya anak cucu yah... wkwkwkwk (lama amat :v). Aku udah pernah bikin cerita ini sampe eps 3 (ciah... eps. serasa sinetron). tapi aku mau post eps 1 dulu aja yah... yang sabar mantenginnya :v. Jangna lupa komen kritik dan sarannya ya...
Informasi cerita:
- Judul : Whisper... where are you?
- Genre : Fantasy, Romance, Supernatural
Prolog~~
Hari-Hari berlanjut seperti biasanya. Senin, Selasa, Rabu . . . hingga kembali
ke Senin. Hariku terus berjalan. Tapi, Pada saat itu aku menemukan seseorang
diatas tempat tidurku. Siapa dia? dia terlihat normal secara sekilas. Hanya
saja . . ada apa dengan punggungnya? Ditumbuhi sepasang sayap?
Dia menjadi pertanyaan besar dalam Hari-hariku mulai saat itu. Aku selalu
berbicara dengannya, mengajak dia makan, dan segala hal. Tapi aku terlihat
seperti orang kurang waras. Aku Seperti melakukan aktivitas bersama teman
hanyalanku. Yap. Dia tidak pernah bisa dilihat oleh orang lain. Hanya aku yang
dapat melihatnya. Aku juga bingung akan hal itu.
3 Bulan Terakhir menjadi waktu-waktu aku dan dia agak lebih dekat dari
biasanya. karena ibu pergi ke rumah keluarga. Dia jadi lebih leluasa berlaku di
Rumah. akupun jadi tidak begitu canggung padanya. Dia juga mulai lebih
perhatian denganku. mungkin dia juga mendukunggku dalam merebut hati Sira. Apa
benar begitu? Aku harap demikian . . .
Eps 1 : Langkah
gebrakan, akankah sukses?
"ayo bangun.
kamu gak mau sekolah?" bisik sesuatu pagi itu
"sebentar!.
5 menit lagi!" bentakku
"kalau
begini terus, kamu gak bakal ditoleh sama Sira. pria yang malang" katanya
"iya!!!
aku bangun!!" kataku Bete
"gitu
dong!" senyumnya
Pagi ini adalah pagi paling bikin jengkel karena hari ini adalah hari senin.
dan kalian pasti tau apa yang paling menyiksa. Upacara. Tentu itu jadi momok
tersendir bagi para laki-laki sepertiku. Harus mendengar guru yang sedang
ceramah panjang lebar kiri kanan atas bawah gak tau kemana arahnya. Tunggu
dikasih tanda overtime baru berhenti.
Sebelum makin jauh, aku perkenalan dulu. Aku Kaza Fahrizal Anwar. Kelas 2
IPA-B SMA 1 Bumi Putra. Anak Tunggal dari pasangan Firman Anwar dan Marwah
Fahrizal Diana. Umurku 17 Tahun sejak 1 bulan lalu. Tak ada yang spesial dari
hidupku. Remaja yang hanya bisa berharap tanpa bisa melakukan apa-apa. Itulah
aku.
Satu hal yang pasti kalian bingung pada ceritaku saat ini. Siapa yang
membangunkanku pagi itu? Dia . . . entahlah. Apakah dia hantu, jin atau
makhluk halus lainnya. Yang pasti hanya aku saja yang bisa melihatnya sepanjang
ini. Dia Arina Frasta Miaro. Entah berasal dari mana dia. Yang dia bilang kalau
dia itu dari dunia paralel dari planet bernama Urina. Disana sama seperti dunia
kita. Tapi ada perbedaan yang signifikan. Disana para Huwi (manusia dalam
bahasa mereka) memiliki sayap merpati. Disana juga tak pernah ada asap
kendaraan karena tak ada kendaraan disana. Semuanya ditempuh dengan terbang dan
berjalan kaki. Disana tak ada logam ataupun besi untuk membuat kendaraan. Hanya
ada kayu, tanah, batu dan mutiara golden wings. Mutiara yang menjadi sumber
kehidupan mereka. Mereka tidak dapat bernafas tanpa batu ini. Entah bagaimana
mekanisme pernafasan mereka sehingga selalu bergantu dengan batu ini. Batu
keemasan ini dapat melepaskan senyawa gas yang diperlukan untuk bernafas bagi
para Huwi. Tanpa batu ini, dalam kurun waktu 1 tahun mereka akan lumpuh secara
mendadak dan kembali ke tempat mereka dilahirkan dengan bentuk telur dengan isi
permata. Apa separah itu? Mungkin saja, karena jika batu yang sudah ia buat
liontin itu aku sembunyikan, dia akan sangat marah dan tidak berani keluar
rumah. Rumah dengan keberadaan batu ini akan tetap terisi oleh senyawa aneh
itu. Katanya senyawa itu akan memperbanyak diri jika ada di dalam rumah
seberapa luaspun rumah itu. Cerita yang aneh. Akupun masih tidak begitu percaya
dengannya.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah “ bagaimana caranya dia sampai disini?”.
Dia bilang dia sedang terbang bermaksud untuk pulang ke rumah. Tapi tak tau
kenapa dia terbawa angin menuju ke pusaran tornado. dia terombang ambing dan
tak tau apa yang akan terjadi. Ia pingsan dan saat terbangun dia telah ada di
kamarku. Cerita yang tidak menarik dan tidak dapat dipercaya. Tapi mau tidak
mau hanya itu saja yang bisa aku percaya saat ini karena tak dapat pula aku
membantah ceritanya.
ð
Disekolah . . . .
“upacara
dimulai dalam 2 menit lagi. Semua siswa harap segera menuju lapangan” bel
sekolah berbunyi dari kejauhan
“ayo cepat!
Kamu bias terlambat nanti”
“ia. Aku
tau!” aku mempercepat langkahku.
Sampainya
aku di depan gerbang . . .
“eits. Sudah
terlambat. Ini sudah jam 7.02. udah terlambat 2 menit. Sekarang kamu berdiri di
sana “ kata Pak Rohim Waka Kesiswaan
“i . . . iya
pak”
“Pak Rohim!”
panggil Bu Ani
“kenapa bu?”
“Diana
sakit. Jadi gak ada yang gantiin buat pidato siswa nanti”
“waduh.
Beneran gak ada gantinya bu? Kalo begini bisa riber”
“beneran
pak. Gak ada yang bisa gantiin. Kalau digantiin sama yang lain, nanti bagian
yang ditinggal bakal pincang”
“waduh. Kaya
mana ya . . . . Eh, Kaza. Kesini sebentar?”
“kenapa ya
pak?”
“kamu gak
dihukum hari . . .”
“beneran
pak?” tatapan senang
“ia, tapi .
. .”
“tapi?”
“kamu harus gantiin
Diana buat Pidato siswa hari ini”
“Pi . .
pidato?”
“iya.
Pidato. Bapak dengar nilai bahasa Indonesiamu bagus”
“ah . . yang
bener pak” senyum bangga sok gak percaya
“iya. Jadi
kamu mau kan gantiin Diana?”
“tapi pak .
.”
“kalau gak
mau, kamu harus bersihin semua toilet laki-laki satu sekolah selama 5 hari”
ancamnya
“i,,, iya
pak. Saya mau, tapi . . .”
“tapi apa
lagi?” tanyanya sinis
“tema hari
ini apa ya pak?”
“kamu gak
ada nyatat jadwal tema ya? Hari ini temanya tentang hubungan fikiran, perasaan
dan tindakan”
“maaf pak.
Saya bener-bener gak tau” garuk kepala gak gatal
“cepat sana”
“i... iya
pak”
Aku pun pergi menuju posisi. Teks yang bakal kubaca dikasi sama Bu Ani. Detik
demi detik terasa mendebarkan. Bukan karena aku gak ngerti yang bakal kubaca.
Tapi gara-gara diliatin satu sekolah. Salah sedikit bakal jadi kontroversi.
Digosipin satu sekolah. Malahan tiap senin ada yang moto (foto) dari ekskul
fotografi. Bisa mati tercengang jalan dikoridor diliatin orang gara-gara
fotonya ditempel di madding.
“pembacaan
pidato siswa dengan tema hubungan fikiran, perasaan dan tindakan”
“waduh.
Giliranku lagi” bisikku dalam hati
“dipersilahkan
untuk naik koridor”
Aku melangkah dengan agak kaku. Aku melihat semua pandangan tertuju padaku.
Seperti aku akan ditombak dan akan diberikan hadiah mobil bagi yang bisa
menombakku tepat didahi. Gila amat kalau sampai kaya gitu. Kubuka lembara teks
tadi. Kuambil nafas dalam-dalam dan . . .
“Selamat
pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. dengan topic hubungan fikiran,
perasaan dan tindakan pagi hari ini, saya akan membawakah sebuah wacana,
catatan kecil, kilas balik dari seorang karakter fiksi dalam hidup kita. Dalam
hati kita. Penuh dengan bermacam-macam tanggapan dan sindiran aneh yang
terhujad. Namun tetap kekal dalam jiwa kita.
Disetiap pekerjaan, penuh dengan fikiran sebab-akibat yang akan terniang dalam
otak kita. Dari hal positif dan negative yang akan menghampiri kita. Ada
kalanya kita menggambil tindakan yang sudah kita fikir matang-matang namun
tidak maksimal hasilnya. Dan terkadang apa pekerjaan yang kita lakukan dengan
sungguh-sungguh walaupun itu belum tentu berhasil, kita mendapatkan hasil yang
cukup memuaskan.
Dari semua pekerjaan yang telah kita lakukan. Bukan hanya fikiran yang kita
gunakan, tapi juga perasaan. Kombinasi dari kedua hal itu akan menciptakan
suatu gagasan yang akan sangat baik. Tapi, tanpa adanya tindakan untuk
mewujudkan, hal itu hanya akan sia-sia saja. Contohnya saja kita belajar rumus
matematika, sudah kita fikirkan jawabannya, sudah kita coba menghitungnya dan
kita juga yakin kalau itu benar. Tapi jika tidak ada penerapan di dunia nyata,
itu hanya akan menjadi catatan kecil tanpa ada gunanya sedikitpun. Ada pula
dalam ikatan batin antar keluarga atau manusia dengan manusia lain. . .”
aku terhenti
karena tulisannya kabur. Semua melihatku dengan sorotan mata tajam. Entah apa
yang ingin mereka lakukan. Terlihat diujung Pak Rohim sedang meremas-remas
tangannya. Aku semakin gerogi. Tapi, Aku menarik nafas dalam dalam dan berfikir
. . .
“dalam
hubungan antara manusia, kita bukan hanya memerlukan pemikiran. Tapi juga
perasaan dan tindakan. Contohnya saja kita akan menolong seseorang, kita hanya
berfikir untuk menolongnya dan langsung menolongnya saja. Namun kita tak
berfikir apa perasaan yang akan dialami olehnya. Menolong seseorang dan hanya
berfikir itu hanya sekedar menolong. Tapi orang lain itu belum tentu berfikir
demikian. Apa lagi jika lawan jenis yang sudah berpasangan tidak resmi. Yang
ada dia fikir kamu mau cari perhatian sama dia. Satu hal lagi. Ada pula yang
telah kita fikirkan, dan kita sudah merasa itu adalah hal terbaik dengan waktu
terbaik dan suasana terbaik. Tapi karena tidak ada tindakan, kita hanya akan
sendiri tak ada yang mengerti. Ungkapkan sekarang. Jika bukan sekarang, kapan
lagi? Tunggu dia sudah diambil orang?
Demikian
yang telah saya sampaikan. Kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Selamat pagi
dan sampai jumpa di lain kesempatan” aku akhiri pidatoku dan serempak hampir
semua orang memberikan tepuk tangan dan lainnya tidak bisa berkata-kata.
“eh narator.
Lanjut” kata pak Rohim yang terdengar dari mick di depan gak sengaja
“Pembacaan
doa”
Turunnya aku
dari koridor, aku merasa sangat plong. Bagaikan terlepas dari rantai yang sudah
ditempelkan padaku selama bertahun-tahun. Semua berjalan lancar. Tak terasa
upacara telah selesai.
“bagus.
Selamat yah . . “ bisik Arina
“hahaha.
Bukan apa-apa”
“tapi tadi
itu keren loh”
“masa?”
nyengir-nyengir
“Hey kak Kaza
.. . “ panggil seseorang dibelakangku
“Hey”
“kenalin,
kak. Aku Army kelas 1C. Kakak keren banget loh tadi”
“masa sih?
Gak ah. Tadi kan ada teksnya”
“tapi ade
tau kok tadi teksnya gak bisa kebaca”
“kok kamu
tau?” aku heran
“karena yang
bikin Teksnya itu aku. Aku sengaja bikin kabur tulisannya yang paling bawah.
Buat ngerjain Kak Diana soalnya sombong betul. Dia bilang karya tulis siapapun
gak mungkin bisa sebagus punyanya. Padahal yang bikin itu aku. Tapi gara-gara
tadi, kakak yang repot. Habis kakak tadi bicara nalar gitu, aku baru nyadar
kalau perbuatanku itu salah. Tapi juga baik buatnya. Mulai sekarang aku bakal
jujur sama apa yang aku fikirin dan apa yang aku rasain. Terima kasih ya, kak”
katanya sambil tersenyum
“i..iya.
bukan apa-apa kok. Aku juga baru nyadar sama yang aku bilang tadi. Mulai
sekarang aku bakal jujur sama perasaanku”
“baguslah
kalau begitu. Kamu tembak aja dia nanti siang” bisik Arinia lagi
“ah kamu
ini. Gak mungkin lah. Itu terlalu cepat” kataku kelepasan
“kakak ngomong
apa?” pandangnya bingung
“eh.. enggak
kok. Cuma ngomong sendiri aja”
“hm hm . . .
“ dia hanya tersenyum
“oh. Ya
sudah ya. Aku mau ke kelas dulu” kataku
“ oh iya
kak” dia kembali tersenyum
“cieh . .
cieh. Ada yang naksir tuh”
“ah. Ngaco lu.
Paling dia udah punya pacar”
“emang kalau
belum punya, mau apa?” senyum jahat
“ah. Udah
ah. Gara-gara kamu aku diliat kaya orang gila ngomong sendiri”
“hahaha . .
.” Arina hanya tertawa
Dari
kejauhan terasa ada yang memperhatikanku sedari tadi. Perasaanku menjadi aneh.
“kenapa?”
Tanya-nya
“gak.
Perasaan ada yang ngeliati”
“weh. Baru
sekali naik koridor sudah ada pengemar rahasianya. Bukan main” sindirnya
“apaan sih.
Udah ah. Aku makin diliatin ama orang gara-gara kamu. Semua gara-gara kamu”
kataku
“ngambek
lagi. Ya sudah. Aku pulang deh. Hati-hati ya”
“udah. Sana
pulang”
“iya . . .”
dia terbang pulang ke rumah
Aku berjalan menyusuri koridor kelas. Aku rasa Arina belum pulang. Karena hawa
keberadaannya masih ada. Aku melihat ke sekeliling dan terlihat cahaya putih
dibalik dinding kelas 1D. Aku berjalan perlahan mendekatinya dan sampainya aku
disana aku melihat bulu merpati besar berwarna coklat dilantai
“bulu
merpati coklat? Apa Arina? Gak mungkin. Kan seharusnya putih” kataku dalam hati
Aku berbalik menuju kelas. Hari ini penuh dengan kebosanan. Guru hanya
memberikan tugas mandiri dibuku tugas sebanyak 1 bab. Istirahatpun akhirnya
datang.
“Cieh. Cool
banget, bray!” datang Reno
Reno Pratama. Temanku sejak kelas 1. Dia itu selalu jadi cowo incaran para cewe
di sekolah sejak dia masuk. Berbanding terbalik sama aku yang gak pernah
diperhatikan sama cewe manapun. Tinggi 179 cm dan berotot walau gak terlalu
kekar. Kulit putih, wajah bersih, style selalu modis, lengkap deh pokoknya.
Ikut ekskul basket, band dan English club. 3 ekskul paling ngetop di sekolah.
Dia gak pernah kewalahan soal waktu. Cowok mana yang gak ngiri dan minder dekat
dia. Apa lagi aku yang tinggi Cuma 165. Beda 14 cm. Kaya kayu patokan tanah
sama tiang listrik. Minder? Jelas. Tapi dia suka banget nempel sama aku. Bikin
jengkel juga sih kadang-kadang.
“hahaha. Yoi
bray. . . “
“Hay, za”
sapa seseorang dari belakang
“Sira?”
pandangku gak nyangka
“kenapa?”
dia menatap bingung
“eh... gak
kenapa-kenapa. Duduk, ra” kataku gugup
“hm. Iya”
dia tersenyum
“ada apa,
Ra?”
“enggak
kenapa-kenapa” jawabnya
“cieh. Salah
tingkah nih” sindir Reno
“apaan sih”
“Ra, ayo ke
ruang guru” datang Lisa teman Sira
“mau
ngapain?”
“kan bentar
lagi perpisahan. Kita mau nentuin jadwal latihan”
“oh. Iya
juga. Ayo. Za, Ren, aku pergi dulu ya”
“yo-i, Ra”
kata Reno
Sira pergi
menyisakan bayang-bayang wajahnya tepat dihadapanku
“eh, Za?”
panggil Reno
Aku tak bisa
berpaling dari rambun hitam panjang yang diikat itu
“yah, dia
malah bengong” kata Reno
“Kaza
sayang” Reno ngelawak
“Ih . . .
menggelikan” terasa dikerumuni lintah
“jahatnya.
Kamu sekarang selingkuh sama Sira?” katanya
“ngelawaknya
gak lucu. Malah menggelikan”
“Hahaha.
Kamu sih bengong terus. Tau ay kamu tuh udah kelepek-kelepek sejak pertama kali
liat Sira. Tapi gak gitu juga kali”
“kamu mana
tau rasanya. Secara kamu belum pernah ketemu tipe perempuan pujaanmu”
“mungkin
saat ini aku belum berfikir seperti itu, karena aku masih berusaha untuk setia”
“setia? Sama
siapa? Wah. Diam-diam sudah pacaran dia”
“kamu gak
bakal ngerti. Kamu gak ada di dunia sepertiku. Mungkin kamu bingung kalaupun
kujelasin”
“so’ puitis
lo”
“hahaha” dia
hanya tertawa. Terlihat matanya memerah.
“matamu
kenapa merah?” tanyaku
“merah?” dia
salah tingkah
“itu yang
sebelah kanan. Merah banget dari pada yang kiri. Kamu habis ngapain? Tumbenan
kamu jadi
begini?”
“eh. Gak ah.
Tadi pas naik motor kacanya kubuka. Jadi gini deh jadinya”
“ck ck ck.
Ada-ada aja kamu ini”
“hihihi” dia
hanya tertawa
Selepas dari kantin, perasaanku ada yang memperhatikanku seperti tadi pagi.
Kulihat sekeliling dan terlihat lagi secercah cahaya dibalik kelas 1C. Aku
bermaksud untuk mencarinya tapi . . .
“panggilan kepada
Kaza Fahrizal Anwar agar segera menuju ruang guru”
“ya ampun.
Ini kan istirahat”
Sampainya di
kantor
“APA!!?” aku
tercengang
“iya, kamu
harus mau jadi perwakilan kelas 1 dan 2 untuk membaca teks pesan bagi kelas 3
nanti”
“tapi kan .
. “
“mau aja
sudah. Kemampuanmu gak usah ditutup begitu. Kami juga tau kok insiden tadi”
kata pak Rohim
“tapi kan
saya baru tampil sekali. Masa iya langsung ditunjuk buat hal yang penting kaya
gitu. Kan kalau salah yang malu bukan Cuma saya. Satu sekolah juga bakal malu
gara-gara salah milih” kataku membela diri alasan ngeles
“bener pak.
Masa iya dia baru tampil sekali sudah dikasih tanggung jawab besar gitu” kata
Lisa
“bapak tau
kalau ini tanggung jawab besar. Tapi apa salahnya sih? Kalau gak ada kesempatan
buat diasah dan ditunjukin, kaya mana bisa berkembang. Kalianpun waktu pertama
kali masuk paduan suara pakai suara hidung semua. Malah kamu Lisa, suaranya
paling gak beraturan. Orang do kamu la. Apa gak tercengang satu sekolah dengar
suaramu?” kata pak rohim
“iya sih
pak, tapi kan masih ada Diana. Kenapa gak dia aja. Lagian dia kan lebih bagus.
Dia juga juara baca pidato perjuangan tingkat kabupaten” balasnya
“itu benar.
Tapi dia gak bisa gara-gara kena gangguan pita suara. Bicarapun dia harus pelan-pelan.
Ada 1 tahun kita duduk nunggu dia selesain pidatonya. Ada pilihan lain?”
“kenapa gak
kak Tio kelas 3 IPS-A?” balasnya
“kamu lupa
ya? Kan harus kelas 1 atau 2. Kalau kelas 3 yang baca sama aja dia ngasih pesan
ke dirinya sendiri. Ngaco nih anak. Ada yang mau perotes?”
“tapi pak .
. .” kataku terpotong
“kamu harus
mau, atau hukuman yang tadi pagi akan berlaku”
“ih . . tapi
kan . . .”
“kamu bakal
bisa kok” kata Sira
“bener tuh.
Nanti juga dilatih kok sama bu Ana. Apa susahnya sih?” kata pak Rohim.
“iya deh
pak. Saya terima” jawabku terpaksa
“gitu dong.
Kalau gini kan enak” hela pak Rohim
“jam
istirahat akan berakhir dalam 5 menit. Harap segera masuk keruangan
masing-masing” bel sekolah berbunyi
“ya sudah
kalau gitu. Kan semuanya udah kelar, jadi sekarang pada masuk kelas gih”
“iya pak.
Permisih” kami keluar ruang guru
Di kelas . .
.
Note di
papan tulis: belajar mandiri
“ada apa
tadi di kantor?” kata Reno
“masa aku
disuruh jadi perwakilan baca pidato buat perpisahan nanti”
“bagus dong
kalau gitu” katanya semangat
“ih. Kamu
mah enak bilang gitu”
“semangat
dong. Itu kan jadi kesempatan besar buatmu. Kamu kan mau jadi pembawa acara
berita di TV-TV. Masa ngomong gini aja takut”
“iya sih.
Tapi . . . “
“kamu tenang
aja. Gua bantu kok. Biar sukses” senyumnya hangat
“iya.
Makasih ya”
“ei,
pasutri. Udah kelar kah tugasnya. Mau dikumpul nih” Sahut Sri
Sri Wahyuni. Murid paling rajin di kelas. Suka banget namanya ngerjain tugas.
Semua buku yang ada pertanyaannya semua udah dia jawab sejak pertama kali dia
beli. Kalau lagi gak ada kerjaan selain ngerjain tugas, dia suka bikin cerpen.
Dia udah kaya penulis handal. Semua jenis buku udah dia coba tulis kecuali
buku-buku yang berbau hal intim. Dia juga suka bawa buku catatan kecil di
lehernya. Gak tau apa yang dia tulis karena setiap hari dia ganti-ganti tuh
buku. Katanya udah habis dia tulisin.
“ya ampun.
Ngerjain aja belum. Nanti aku yang ngumpul ke kantor deh” kataku panik
“iya. Aku
juga belum nih. Nanti kami yang ngantar”
“ya sudah.
Tapi ingat. Jangan lewat jam 12. Ibunya mau ijin”
“iya. Tenang
aja” kata Reno
“udah.
Kerjain sana. Biar cepat selesai” kataku
“iya sayang”
“ih. . . .”
Di koridor
menuju kantor
“Ren, apa
kamu ngerasa aneh gak hari ini?”
“gak sih.
Perasaanku tiap hari gak pernah berubah kecuali hari minggu”
“dasar.
Beneran gak ada. Walaupun sedikit?”
“bener.
Emang ada apa sih?”
“gak.
Perasaan dari tadi pagi ada yang ngikutin aku terus”
“hm . . hm .
. hm . . sebenarnya sejak kamu masuk SMA ini kamu udah diikutin terus kok. Kok
baru nyadar”
“kok bisa?
Siapa?”
“fikirin aja
sendiri” katanya bete
“ih. Gak
jelas”
Kami pun sampai di kantor. Terlihat Sira sedang diceramahin sama pak Rohim
“kan bapak
bilang, walaupun kamu sibuk sama ekskulmu, kamu juga harus mentingin nilaimu.
Ekskul gak bisa naikin nilaimu. Kalau dalam seminggu nilaimu gak kembali kaya
sebelumnya, kamu harus keluar dari ekskul dan gak boleh ikut kegiatan ekskul
manapun. Dan satu lagi. Kamu juga gak diizinin buat tampil pas perpisahan
nanti. Ngerti?”
“ngerti,
pak” katanya lemah
“ya sudah
kalau ngerti. Sekarang kembali ke kelas”
“iya pak.
Permisih”
Dia berjalan
dengan pandangan kosong dan tidak menghiraukan aku di depannya.
“Sira!
Awas!” aku teriak
“PLAKK!”
kepalanya terpentok pintu dan tepat memberi tanda merah dikeningnya.
“ eh, aduh
ini anak. Bawa dia ke uks sekarang!” kata pak Rohim
“iya pak”
kata kami
Kamipun
membawa Sira ke uks. Semua orang dikoridor melihat kami dengan tatapan aneh.
Semoga itu bukan awal dari gossip. Sampainya kami di uks . . .
“waduh, Za.
HPku ketinggalan di kantor guru tadi. Aku balik dulu ya”
“iya. Sana
gih cepat!” kataku
Akhirnya hanya ada aku dan Sira didalam uks. Walau uks ini tidak begitu sempit
dan pintu masuk bisa melihat apapun yang ada di dalam, tapi nafasku sangat
sesak. Jantungku berdetak kencang. Hatiku tak karuan. Otakku mulai berfikir
yang tidak-tidak. Aku menepis perasaanku. Aku mengambil kain dan air es. Aku
menyapu keningnya yang lebam.
“au!” katanya
kesakitan
“aduh. Maaf.
Sakit ya?”
Dia hanya terdiam mungkin itu hanya reflek saja. Tangannya gemetaran, akhirnya
kuberanikan diri untuk memegangnya agar dia bisa lebih tenang. Namun dia
melepaskan dan menarik dasiku. Kepalaku langsung mendekat ke wajahnya. Sontak
aku terdiam bagai patung. Dunia serasa berhenti berputar. Waktu berhenti
berjalan. Aku tak bisa apa-apa.
“Apa harus
aku melakukannya?” Dalam hatiku berbisik
“Byurr!!” terdengar suara air terjatuh. Aku terkaget. Aku segera menjauhi
wajahku dari Sira. Aku berdiri dan menuju tempat suara itu. Terlihat 2 plastik
minuman yang telah tumpah isinya dan terlihat tetesan air tak berwarna
menyusuri koridor walau jaraknya berjauhan. Terlihat seseorang berlari menjauh
dari koridor itu. Aku takut orang itu bakal nyebarin gossip tentang hal tadi.
Jantungku berdebar makin kencang. Aku jadi ingin lari. Tapi aku kasihan dengan
Sira sendirian di sana. Aku jadi bingung. Tarlihat dari Lisa dari arah kantin.
“Lisa!”
panggilku
“kenapa,
za?”
“kamu jagain
Sira di uks ya?”
“hah? Sira
kenapa?” tanyanya panik
“gak. Tadi
pas dia dari kantor pas mau keluar malah ngantup pintu kencang banget. Jadi dia
pingsan”
“ya ampun.
Ya udah. Biar aku yang jaga. Makasih ya udah di antarin”
“iya.
Makasih ya”
“iya. Gak
papa kok” katanya
Akupun pergi menuju kelas. Kelas udah kosong. Tinggal tasku aja di dalam.
Untung kelas udah bersih, jadi gak usah repot-repot nyapu lagi. Tapi, kok Reno
udah gak ada ya? Biasanya kalau pulangan dia selalu ngajak sama-sama. Apa dia
ada hal ya? Mungkin aja. Dia kan harus turun ekskul basket nanti. Akupun
akhirnya pergi pulang.
Diperjalanan pulang . . .
“sssshut!!”
seseorang berbisik
“siapa?” aku
bertanya sambil melihat ke segala arah.
“disini!”
katanya. Dia ternyata ada di gang sempit
“sini!”
“aku?”
“iya. Cepat”
katanya
Akupun mendekatinya. Dia menarikku masuk ke gang itu. Kiri, kanan, kiri, kanan,
kanan, aku gak ingat lagi belok mana. Dia mendorongku hingga aku terjatuh.
“hey! Apaan
sih!”
“kamu jangan
dekat-dekat sama nona Sira. Atau kau akan mati di tanganku. Camkan itu
baik-baik!” bentaknya
“siapa kamu
ngelarang-ngelarang aku? Pacarnya? Bukan kan?”
“aku
penjaganya. Kamu jangan macam-macam. Jangan pernah megang tangannya. Apalagi
sampai nyium dia!” dia langsung meninjuku hingga hidungku mengeluarkan darah
“kamu
kenapa? Cuma penjaga aja, toh. Kalau dia sukanya sama aku kaya mana?”
“kamu berani
ya!” bentaknya
Dia
meninjuku telak di perutku hingga aku pingsan. Saat ku terbangun hari sudah
gelap.
“siapa sih
tadi? Aduh. Sakit banget lagi. Udah jam berapa ini?”
“Kaza!”
panggil Arina dari atasku yang terlihat seperti sedang mencariku
“hey! Aku di
bawah!”
“kamu
ngapain disini. Ini udah malam. Kenapa belum pulang? Aku sendirian tau di
rumah”
“kamu gak
ngeliat aku bonyok gini?”
“kamu habis
kelai?”
“enggak. Aku
habis makan cendol”
“pasti belum
bayar udah lari. Jadi kamu dipukul deh sama yang punya”
“ye . . .
dikiranya aku begitu betulan lagi. Ya enggak lah. Aku tadi habis dipukul sama
orang”
“kenapa
emangnya?”
“gak tau.
Ada yang ngaku-ngaku jadi penjaganya Sira. Dia marah kalau aku dekat-dekat sama
dia”
“wah, ada
saingannya nih. Hati-hati loh”
“aku tetap
akan berjuang agar Sira bisa menerimaku menjadi pacarnya”
“yah. Yah.
Yah. Ayo kita pulang”
“eh bentar.
Itu bulu sayapmu rontok” sambil nunjuk bulu yang terjatuh dibawahnya
“rontok? Gak
mungkin. Bulu sayapku gak mungkin rontok. Karena yang bisa rontok itu Cuma
sayap Huwi laki-laki. Kalau perempuan gak mungkin rontok kecuali lagi sakit
keras”
“hah? Jadi
itu bulu siapa dong?”
“gak tau
juga. Lagian ini warnanya coklat. Sayapku kan putih”
“bulu
coklat? Oh iya. Tadi pagi kan ada aku bilang kalau aku diikutin, nah aku nyusul
ke tempat orang yang ngikutin aku. Pas aku sampai yang aku dapat cuma bulu
coklat kaya gitu”
“coklat? Ini
bener-bener langka. Karena yang bisa punya bulu coklat Cuma anggota kerajaan
aja”
“haa?
Anggota kerajaan?”
“iya. Dan
kalau coklatnya segelap ini biasaanya keturunan keluarga kerajaan”
“kok aku gak
ngerti ya?”
“ya sudah,
nanti aku jelasin di rumah”
Sampai
dirumah didalam ruang keluarga . . .
“gini nih. Di Urina dipimpin oleh seorang raja dan ratu. Raja dan ratu memiliki
gen sayap berwarna coklat gelap. Dahulu saat umur mereka baru 16 tahun, sayap
mereka masih berwarna putih. Namun saat masuk tahun ke 17 umurnya, warna
sayapnya akan berubah secara langsung. Dipagi hari saat terbangun, dia akan
dinobatkan sebagai seorang anggota keluarga kerajaan. Ada pula yang memiliki
sayap berwarna coklat muda akan menjadi anggota keluarga di daerah atau pulau
lain.
Urina terbagi atas 12 bagian dan aku tinggal di pusat pemerintahan. Di kota
Uranopolis. Ada juga kerajaan Seanopolis sebagai kerajaan laut. Rainopolis,
Firanius, dan Antolium sebagai kerajaan peramalan musim kedepan. Fladarisis dan
Cube sebagai kerajaan pengontrol dunia bawah atau bencana alam. Richirick
sebagai kerajaan pangan, Flamarizard sebagai kerajaan ilmu pengetahuan,
Contaminior sebagai kerajaan pembersihan. Yang satu itu memang agak aneh. Itu
kerajaan untuk merehabilitasi para Huwi yang sakit keras, atau bermasalah. 2
kerajaan lain adalah kerajaan Rotam dan Lisu. Kerajaan Rotam adalah kerajaan
persinggahan atau mungkin lebih tepat sebagai kerajaan penyaluran segala hal
dari pusat ke daerah lain. Sedangkan kerajaan Lisu adalah kerajaan Tanah angin
alias kerajaan hukum”
“ribet amat
sih. Bukannya kalian tinggal di 1 planet. Kok dipimpin 1 raja dan 1 ratu?”
“yah begitu adanya. Raja mengambil bagian Seanopolis, Fladarisis, Cube,
Flamarizard, dan Contaminior. Sedangkan Ratu memerintah bagian lain selalin
Uranopolis dan Lisu. Untuk kerajaan Uranopolis akan diperintah bagi keduanya
dan kerajaan Lisu akan diperintah oleh raja dan ratu terdahulu sebelum mereka
wafat. Jika mereka telah wafat, maka akan dicari Raja dan Ratu yang baru untuk
memerintah kerjaan-kerajaan bagiannya dan Raja dan Ratu tadi akan memerintah di
kerajaan Lisu”
“kedengarannya
masih ribet. Apa gak salah ya?”
“gak lah.
Yang tinggal di sana siapa sih? Kok kamu yang sok tau?”
“ya gak
gitu. Tapi kalau didengar-dengar masih gak masuk akal dan mekanisme
pemerintahan terlalu sulit
dicerna.
Sebenarnya gambar planet dan kerajaan-kerajaan itu kaya mana sih?”
“sebentar.
Aku ambil kertas dulu”
“begini!”
“beneran
planet Urina begini gambarnya?”
“yah mungkin
gak sesederhana ini. Tapi garis besarnya sih begini”
“tapi kok
Flamarizard gak rata gitu?”
“memang gak
rata karena Cuma disitu dataran tinggi di Urina. Karena tinggi, disana udaranya
cukup dingin dari pada yang lain. Oh iya. Disana dinginnya gak kaya disini.
Disana dingin bener2 dingin, disini dinginnya masih bisa dibilang hangat”
“apa bener?
gak percaya aku”
“katanya sih
gitu. Aku belum pernah kesana. Katanya kalau kamu kesana gak bawa batu golden
wings yang sebesar kepalan tanganmu, kamu gak bakal bisa benafas. Karena disana
pelepasan gas pernafasan sangat cepat ternetralisir”
“ribet amat
yah planetmu itu”
“tapi
seribet apapun, disana gak pernah tuh ada asap kendaraan yang bau kaya disini”
“ya iya lah.
Disana kan apapun yang mati bisa kembali tumbuh jadi tunas baru, gak bakal jadi
minyak sumber tenaga, dan lagian disana gak ada logam, besi, atau sejenisnya,
jadi gak bisa buat kendaraan”
“nah itulah
hebatnya planet kami. Dirancang dengan arsitektus dan disusun dengan
bahan-bahan yang aman. Gak akan merugikan kami dimasa depan”
“sebentar.
Tadi kan kamu bilang kalau anggota keluarga kerajaan itu punya sayap berwarna
putih sebelum berumur 17 tahun. Bagaimana bisa pas masuk 17 tahun sayapnya
berubah warna? Kan mereka gak punya gen aggota kerajaan?”
“nah. Zaman
dahulu sebelum planet kami terbentuk, nenek moyang kami adalah 19 wanita dan 1
pria. Dahulu planet Urania tidak begitu besar. Hingga perjalanan menuju tempat
tidak begitu sulit. Karena perkawinan itu, hasil nenek moyang kami pertama
lahir. Katanya hasil perkawinan itu menghasilkan 20 telur Huwi. karena
banyaknya telur tersebut, gen kami semua terpencar. Tapi, bukan berarti mudah
menjaga telur-telur Huwi, karena banyaknya predator telur Huwi hingga yang
terselamatkan hanya ada 5 telur. Karena telur itu begitu besar dan sulit untuk
disembunyikan ataupun dibawa lari oleh nenek moyang, nenek moyang berdoa
bersama-sama untuk merubah ukuran keturunan mereka menjadi lebih kecil. Karena
itu kami semua berada dalam bentuk sekecil ini. Dahulu katanya nenek moyang
sangat besar, sebesar 15 kali lipat dari menara Eifel”
“wah, besar
banget. Tapi jauh banget ya besarnya dari kalian”
“ya gitu
deh. nah lanjut cerita. Saat ajal para nenek moyang sampai, keturunannya sudah
sangat banyak. merekapun mati dan darahnya bertumpahan diseluruh penjuru Urina.
Dari darahnya mengalir batu Golden Wings, Urina menjadi Lebih besar hari demi
hari. Lama-kelamaan tumbuh Pepohonan yang sangat rimbun dari sisa bangkai
mereka, dari situlah terbentuk Kerajaan-kerajaan”
“yang bikin
aku bingung, kaya mana bisa kalian keluar sebagai telur, 19 wanita 1 pria
sebagai nenek moyang, dan bangkai mereka menjadi kerajaan-kerajaan?”
“kalau
keluar sebagai telur aku juga gak tau. Sampai terakhir aku di Urina gak ada
informasi apapun dari Sekolah. Kalau 19 wanita dan 1 pria yah memang begitu
mitologinya”
“bukannya
ada 19 wanita plus 1 pria. Seharusnya kan kalau mereka mati akan menjadi 20
kerajaan, kenapa Cuma 12 kerajaan?”
“oh. Dalam
perkembangan zaman, 7 kerajaan yang lain sudah melebur dan masuk ke wilayah
yang lain. Sedangkan 1 kerajaan yang sisanya tenggelam ditelan Urina. Katanya
kerajaan itu ditelan karena perintah dari tuhan untuk mengatur kegiatan perut
Urina”
“hah? Gak
ngerti lagi aku jadinya”
“ya begitu
maksudnya. Itu udah yang paling sederhana”
“pusing aku
dengernya”
“Jam 9, Jam
9. Waktunya tidur . . .” jam dinding berbunyi
“ya sudah,
udah malam. Tidur gih sana”
“iya. Udah
cape aku dengar dongengnya”
“enak aja
dongeng. Itu mitologi!”
“terserah
lah. Selagi aku belum pernah ngeliat, aku jadi gak bisa terlalu percaya”
“hmm, itulah
kamu. Susah percaya sama orang. Udah sana. Tidur. Biar besok aku gak usah
teriak kencang-kencang kaya kemaren”
“kamu kira
aku mau apa kamu teriakin kaya gitu”
“udah sana
tidur. Gak usah banyak protes”
“iya iya”
kataku mengangguk
Dia hanya
tersenyum. Setelah aku tidur di kamar, dia pergi keatas atap . . .
“aku akan
mencoba hal itu. Itu akan lebih baik dari pada dia terus memandangku seperti
ini. Demi rasa ini, aku juga harus berjuang” kata Arina menenangkan fikirannya....
Bijimane??? bagus kagak? jelek kagak? aneh kagak? kalo gaje harap maklum yah karena yang bikin orangnya juga gaje :v
makasih loh sudah mau baca nih cerita kagak jelas. semoga cerita ini menginspirasi fikiran teman-teman semua buat bisa ngayal punya makhluk gaib cantik kayak gitu #korbanlamamenjones...
aku mohon komen kritik dan saran nya yah... sampai jumpa di eps selanjutnya...